Dalam forum rapat manajemen di salah satu kantor saya minggu yang lalu, ada perdebatan dan diskusi yang menurut saya agak lucu dan childish. Gara-garanya adalah urusan distribusi kompensasi atas prestasi hasil pekerjaan yang dilakukan secara tim. Pembagian honor memang sering memicu pertentangan antar anggota tim, yang dapat berakhir pada sinisme dan interpersonal tension dalam organisasi. Sumber masalahnya sebenarnya sederhana, yaitu adanya perbedaan cara pandang dalam melihat mengapa seseorang mendapat honor lebih besar dibandingkan dengan yang lain.
Sudut pandang yang satu melihat bahwa seseorang tidak boleh mendapat honor yang besar, karena tidak mungkin dan tidak adil kalau seseorang mengerjakan porsi perkerjaan yang luar biasa banyaknya sehingga akan mendapatkan honor yang lebih besar. Sayangnya komentar ini baru muncul dan diributkan ketika pekerjaannya telah selesai. Sedangkan pada saat kick off pekerjaan dimulai dimana terjadi pembagian beban tugas, tidak ada yang ribut dan mempermasalahkannya. Masuk akal juga, emang siapa yang mau dikasih kerjaan banyak? Cape kan?!
Sudut pandang yang lain melihat bahwa sudah sepantasnyalah orang yang bekerja lebih banyak perlu menuai hasil yang sepadan dengan beban kerjanya. Jadi tidak perlu ada protes kepada orang mendapatkan honor yang besar, jika memang dia bekerja lebih banyak. Jika hasil kerjanya buruk, karena dia bekerja diluar kapasitas, maka itu adalah trade off antara kualitas dan produktivitas. Dalam hal ini yang harus disalahkan adalah orang yang bertanggung jawab dalam pembagian beban kerja tim, bukan si pelaksana tugas. Cape dech…….. Read the rest of this entry »
