Posted by yudipram on August 15, 2008
Dalam pidatonya pada peresmian penerimaan mahasiswa baru ITB 2008-2009, Rektor ITB, Prof. Dr. Djoko Santoso, mewanti-wanti agar lulusan perguruan tinggi tidak menjadi “Sarjana Kertas” (Pikiran Rakyat, 14/08/08). Sarjana kertas adalah bukan dalam pengertian sarjana yang ahli membuat kertas, sehingga bisa kerja di pabrik pulp Indah Kiat. Tapi yang dimaxud sarjana kertas adalah sarjana yang lulus hanya karena ijasah tanpa disertai kemampuan sesuai dengan bidang yang ditekuninya di perguruan tinggi tempat dia belajar. Beliau mengingatkan bahwa mahasiswa jangan hanya mengejar kertas ijasah, tetapi harus mengembangkan kapasitas. “Sarjana harus memiliki kapasitas yang cukup untuk berbuat kebaikan” tutur Rektor ITB tersebut.
Ada yang menarik dari pernyataan pak rektor ini. Bahwa ukuran kesarjanaan seseorang itu ternyata bukan dari kertas ijasahnya, namun dari kapasitasnya untuk berbuat kebaikan. Jadi kalau banyak lulusan perguruan tinggi yang menjadi koruptor, atau terlibat dalam kasus korupsi, ini sama artinya bahwa perguruan tinggi di Indonesia belum banyak yang berhasil menelorkan sarjana. Perguruan tinggi di Indonesia baru berhasil membagikan ijasah kelulusan karena yang bersangkutan telah menyelesaikan seluruh proses pembelajaran di perguruan tinggi tersebut. Masalah apakah bahan pelajarannya sudah dikuasasi dan terinternalisasi pada si calon sarjana, itu urusan lain. Jadi, apakah si lulusan telah menjadi sarjana atau belum, ternyata tidak dijamin oleh perguruan tinggi yang meluluskannya. What Indonesian Students! Read the rest of this entry »
Posted in Life & Personal Skill | Tagged: kemampuan berbuat baik, kompetensi SDM, mahasiswa indonesia, pengembangan diri, penggangguran, perguruan tinggi, sarjana kertas | 6 Comments »
Posted by yudipram on August 13, 2008
Dalam organisasi yang menganut sistem otoriter, biasanya berlaku 2 aturan. Aturan pertama adalah Boss always right. Boss itu selalu benar: gagasan, pikiran, konsep, prilaku, dan keputusannya itu tidak boleh dibantah! Aturan kedua adalah if the Boss wrong, reread rule # 1. Kalau boss salah, baca lagi aturan pertama. Hahahaha ini namanya dwi-tunggal. Aturan yang di loop alias closed system, muter-muter aja disitu kaya bianglala dunia fantasi. Ini model demokrasi terpimpin ala orde baru. Jadi boss memang enak, selalu merasa di atas angin. Lawan siapa pun selalu dan pasti menang, meskipun tidak didukung oleh Viking-bobotoh yang kampungan itu (ke..ke..ke..eh naha jadi mengkol ka Persib). Selama itu bawahannya si boss, maka bukanlah wasit yang berkuasa, tapi si boss lah yang berkuasa, dan wasit akan dipersilahkan si boss untuk duduk di bangku cadangan. Read the rest of this entry »
Posted in Life & Personal Skill | Tagged: bawahan yang baik, boss yang pas-pasan, kepemimpinan, keterampilan berorganisasi, pengembangan karir, prilaku organisasi, talent management | 3 Comments »
Posted by yudipram on August 10, 2008
Ada lelucon basi yang masih relevan dengan tulisan ini, “apa bedanya sekretaris yang baik (a good secretary) dengan sekretaris yang cantik (a nice secretary)?” jawabannya : Perbedaanya baru ketauan pada kalimat pertama yang diucapkan si sekretaris di pagi hari. Si baik akan mengucapkan “good morning boss….” Karena baru ketemu lagi di pagi hari itu dan siap menerima pekerjaan baru untuk sepanjang hari itu, sedangkan Si cantik akan bilang “ its morning boss….” Karena dia bekarja hampir tidak sadar waktu, menemani si boss siang dan malam. Pertanyaan berikutnya adalah “Mana yang penghasilannya lebih besar? si baik atau si cantik?” Gw ga mw jawab, itu terserah loe aje. tapi yang jelas si boss pasti gajinya yang paling besar.
Point yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kita tidak bisa munafik (jadi bukan munadi atau munawar! Kalau pak munadi itu kawan saya yang menjadi Ka Divisi Telkom CIS, sedangkan pak munawar itu kawan saya seangkatan di PL-ITB dulu ………..hahaha ngelantur). Ya, pokoknya kita tidak bisa munafik lah bahwa kalau bekerja itu pada dasarnya kita berharap income, fringe benefit, dan bahkan kalau punya prestasi hebat malah kita berharap ada rewards khusus. Jadi bohong, kalau ada orang yang beralasan bahwa bekerja itu dilakukan karena ingin mengembangkan bakat. Pengembangan bakat itu hanya sasaran antara (intermediary goals) , namun sasaran akhirnya pastilah sesuap berlian. Hanya pertanyaannya, bagaimana caranya agar ketiga hal tadi (income, fringe benefit, dan rewards) dapat diperoleh secara maksimal?. Jawabannya cukup sederhana: berbaik-baiklah dengan boss anda, bikin boss anda always happy! (ajaklah si boss untuk menyanyi “don’t worry………..be happy!”) Read the rest of this entry »
Posted in Life & Personal Skill | Tagged: dont sorry be happy, good secretary, happy boss, nice secretary, personal development, professonal worker, sub ordinate behavivor | 1 Comment »
Posted by yudipram on August 8, 2008
Kemarin pagi saya sempat bicara di depan forum yang dihadari oleh para senior manajer beberapa perusahaan BUMN. Salah seorang audiens dari PT. Pelindo (BUMN pengelolan pelabuhan laut), bertanya “ Pak, apa yang harus dilakukan akan kita tidak jadi pecundang dalam arena bisnis yang penuh ketidakpastian? “ Ini pertanyaan pendek, tapi jawabannya merupakan bahan kuliah untuk satu semester. Lalu saya jawab saja, “Kuncinya cuma satu, Jangan Salah Membuat Keputusan”. Itu memang jawaban klise yang memerlukan penjelasan panjang dan interpretasi yang cerdas. Saya menambahkan, “Keputusan yang dibuat harus cocok dengan kondisi lingkungan bisnisnya” Oleh karena itu, jika ingin meminimalkan kesalahan dalam memutuskan maka sangat penting sekali mengetahui kondisi perkembangan lingkungan bisnis yang up to date. Jadi lakukanlah pemantauan terhadap lingkungan (internal dan eksternal) bisnis anda, agar anda tidak tergulung oleh ombak besar perubahan lingkungan yang mampu memporak porandakan bisnis anda. Read the rest of this entry »
Posted in Bisnis & Manajemen | Tagged: analisis lingkungan bisnis, business intelligent, cari suami, competitive intelligent, defensive strategy, survival strategi, tips nyari jodoh | 3 Comments »
Posted by yudipram on August 2, 2008
Kalau ada ditawarkan hidangan perasmanan (ala carte), ada kecenderungan semua menu akan diambil dan disantap. Ini berlaku buat semua orang, selama masih merasa sehat, kaum borju maupun kaum proletar pasti makannya banyak. Tawaran yang beraneka ragam memang cenderung membangkitkan selera, dan memacu hasrat penasaran. Hal inilah yang sekarang terjadi di pasar jasa telekomunikasi. Setelah lebih dari satu dekade kompetisi di sektor telekomunikasi dijalankan, kini tiba pada giliran pelanggan memperoleh value (nilai) yang jauh lebih besar, jika dibandingkan dengan jaman monopoli dulu. Bisa jadi ini hasil kerja dari invisible hand market mechanism. Pada saat ini pelanggan benar-benar dimanjakan olen kemudahan yang tinggi dalam memperoleh jasa telekomunikasi. Untuk menikmati jasa telekomunikasi anda tidak perlu lagi pergi ke wartel atau mencari telepon umum koin yang tidak terpelihara itu. Jangan takut! Sekarang sudah ada Handphone (HP). Pada saat ini, HP sudah bukan barang eksklusif. HP adalah perlengkapan standar pribadi, seperti layaknya orang mengenakan jam tangan. Jam tangan adalah asesoris pribadi yang standar bagi sebagian besar orang. Demikian juga dengan HP, sebagian besar orang pasti membawa HP. Perkara nomor telepon? Bukan masalah lagi untuk mendapatkannya. Saat ini tidak dikenal lagi istilah daftar tunggu. Emang di Stasion Kereta Api, mesti nunggu segala? Ini adalah era ready for use, ada uang ada barang. Di setiap belokan, di setiap pusat pelayananan/ warung lingkungan, kartu seluler dari setiap operator pasti tersedia dengan harga terjangkau. Harga kartu seluler saat ini sudah sama dengan harga semangkuk mie baso, yang dijual pedagang gerobak keliling yang sering lewat rumah kita. Read the rest of this entry »
Posted in Industri Telekomunikasi | Tagged: industri jasa telekomunikasi, kompetisi dan monopoli, loyalitas pelanggan, pelanggan multi operator, rilaku pelanggan telepon seluler, subscriber behavior | 1 Comment »