Di Koran Pikiran Rakyat hari Sabtu yg lalu, saya membaca ada iklan Speedy yang cukup besar. Namun yang menarik dari jasa akses internet broadband milik Telkom ini, terletak pada varian paket layanan yang ditawarkan ke konsumen beserta tingkat harganya yang jadi lebih berragam. Pada saat ini, Speedy di tawarkan oleh Telkom dengan rentang harga dan kualitas yang cukup lebar, dengan menggunakan uses sebagai basis offeringnya. Ini adalah kreativitas baru, dimana sebelumnya differensiasi layanan biasanya didasarkan pada user type. Namun intinya, perusahaan ingin melayani konsumen dari mulai yang terendah sampai dengan yg tertinggi. Ini adalah menebar jala yang diharapkan dapat menangkap berbagai ukuran ikan. Buat yang terbatas anggarannya, dapat mencoba paket mail sedangkan yang punya dana besar dapat menggunakan paket biz. Pertanyaan yang menggelitik saya adalah apakah strategi product proliferation (dimana produk dibuat berkembang biak menjadi lebih banyak) ini cukup efektif untuk meningkatkan revenue dan pertumbuhan Telkom yang sudah mulai redup? Saya termasuk orang yang menyangsikan efektivitas strategi ini. Argumen saya adalah efektivitas strategi tidak hanya tergantung pada substansi, profil, dan kontur dari strateginya, namun dipengaruhi juga oleh magnituge dan timing dalam mengeksekusinya. Strategi yang bagus secara substansi, belum tentu berhasil jika dieksekusi pada waktu dan tempat yang salah. Dengan kata lain, efektivitas strategi akan sangat tergantung pada momentumnya. Apabila momentumnya tepat, maka kinerja strategi dijamin akan maksimal. Dalam kasus speedy, saya menduga bahwa, gempuran speedy ke pasar jasa akses internet ini sudah kehilangan momentum! Khususnya untuk masuk ke pasar individual. Read the rest of this entry »
Archive for the ‘Industri Telekomunikasi’ Category
Telkom Speedy Kehilangan Momentum di Pasar Individual? (By Yudi Pram)
Posted by yudipram on April 7, 2009
Posted in Industri Telekomunikasi | Tagged: atraksi lebih menghibur, evaluasi produk, facebook mania, industri jasa telekomunikasi, jasa akses internet broadband, momentum pasar, pasar melar, product poliferation, service development, telkom speedy | Leave a Comment »
Menyalahkan Faktor Eksternal yang Uncontrolled (by Yudi Pram)
Posted by yudipram on November 2, 2008
Ada yang perlu didiskusikan sehubungan beberapa publikasi media massa terhadap kinerja keuangan PT.Telkom, tbk pada tahun 2008 ini. Pada beberapa pemberitaan selama 3 bulan terakhir terhadap perusahaan tersebut, dikemukakan bahwa baik laba PT.Telkom, maupun PT.Telkomsel (sebagai anak perusahaannya) mengalami penurunan (manurung….bah!). Keadaan ini tentunya tidak sesuai dengan target perusahaan, lebih tepatnya tidak sesuai dengan anamat RUPS. Meskipun pendapatan triwulan III yang Rp.44,6 T naik sekitar 2.18% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun labanya turun sebesar 9.16% (PR,1-11-08). Sebenarnya, ini merupakan fenomena normal, bukankah segala sesuatu itu ada siklusnya? Tapi, yang menarik adalah komentar para petinggi di kedua perusahaan tersebut yang terkesan menyalahkan kondisi eksternal perusahaan, dimana industri telekomunikasi nasional sedang dilanda perang tariff. Menurut hemat saya, ini agak janggal! Bukankah strategi perusahaan pada dasarnya adalah menyesuaikan kondisi internal perusahaan dengan peta peluang dan ancaman yang ada di eksternal perusahaan? Dalam kegiatan manajerial perusahaan, kita itu membuat formulasi strategi, bukan formulasi lingkungan bisnis. Jadi kalau tujuan dan target perusahaan tidak tercapai, yang harus disalahkan adalah strateginya bukan lingkungan bisnisnya. Mengapa demikian? Karena hanya strategi perusahaan yang bisa kita kendalikan, bukan lingkungan bisnisnya. Lingkungan bisnis itu berfluktuasi dinamis dan bergerak liar, kita tidak bisa memaksa lingkungan bisnis (eksternal) berprilaku sesuai dengan kehendak kita. Read the rest of this entry »
Posted in Industri Telekomunikasi | Tagged: fluktuasi bisnis, industry life cycle, lingkungan eksternal, off roader, perang harga, strategi bersaing | 2 Comments »
Escape from The Crowd: From Market Based to Resource Based (By Yudi Pram)
Posted by yudipram on September 10, 2008
Apa yang harus anda lakukan jika perusahaan anda kalah bersaing, dan menjadi pecundang dalam perebutan pasar end user. Tapi anda ingin tetap eksis dalam industri, karena potensi profit di bisnis itu sangat sexy dan menggiurkan? Jawabannya adalah mundurlah dari arena pertempuran, dan jadilah anda supplier bagi para pesaing anda! Dari pada anda repot-repot buang energi untuk bersaing dengan pesaing anda yang sudah jelas-jelas lebih OK & lebih jago, mendingan anda back off dan mengambil posisi sebagai mitra dalam value delivery networknya pesaing. (kata Gus Dur sih, gitu aja ko repot!). Itu adalah langkah aman, untuk tetap menikmati gurihnya profit yang ada di industri. Ketimbang tidak ikut menyantap sama sekali, mendingan berkolaburasi dengan pesaing untuk menikmati pesta pora industri. Dengan kata lain, kalau perusahaan anda ngga kompetitif di pasar retail, maka mendingan jadi wholeseller, atau pergilah ke sub industri yang ada di hulu. Ini adalah pilihan cerdas, agar anda dapat mensupply ingredients yang akan diolah perusahaan yang akan melayani kepentingan end user. Read the rest of this entry »
Posted in Industri Telekomunikasi | Tagged: go wholesale, industry hulu, industry telekomunikasi nasional, kalah bersaing, market based strategy, resource based strategy, safety valve, strategic management | 3 Comments »
Selamat Menikmati Era Multi Operator! (By Yudi Pram)
Posted by yudipram on August 2, 2008
Kalau ada ditawarkan hidangan perasmanan (ala carte), ada kecenderungan semua menu akan diambil dan disantap. Ini berlaku buat semua orang, selama masih merasa sehat, kaum borju maupun kaum proletar pasti makannya banyak. Tawaran yang beraneka ragam memang cenderung membangkitkan selera, dan memacu hasrat penasaran. Hal inilah yang sekarang terjadi di pasar jasa telekomunikasi. Setelah lebih dari satu dekade kompetisi di sektor telekomunikasi dijalankan, kini tiba pada giliran pelanggan memperoleh value (nilai) yang jauh lebih besar, jika dibandingkan dengan jaman monopoli dulu. Bisa jadi ini hasil kerja dari invisible hand market mechanism. Pada saat ini pelanggan benar-benar dimanjakan olen kemudahan yang tinggi dalam memperoleh jasa telekomunikasi. Untuk menikmati jasa telekomunikasi anda tidak perlu lagi pergi ke wartel atau mencari telepon umum koin yang tidak terpelihara itu. Jangan takut! Sekarang sudah ada Handphone (HP). Pada saat ini, HP sudah bukan barang eksklusif. HP adalah perlengkapan standar pribadi, seperti layaknya orang mengenakan jam tangan. Jam tangan adalah asesoris pribadi yang standar bagi sebagian besar orang. Demikian juga dengan HP, sebagian besar orang pasti membawa HP. Perkara nomor telepon? Bukan masalah lagi untuk mendapatkannya. Saat ini tidak dikenal lagi istilah daftar tunggu. Emang di Stasion Kereta Api, mesti nunggu segala? Ini adalah era ready for use, ada uang ada barang. Di setiap belokan, di setiap pusat pelayananan/ warung lingkungan, kartu seluler dari setiap operator pasti tersedia dengan harga terjangkau. Harga kartu seluler saat ini sudah sama dengan harga semangkuk mie baso, yang dijual pedagang gerobak keliling yang sering lewat rumah kita. Read the rest of this entry »
Posted in Industri Telekomunikasi | Tagged: industri jasa telekomunikasi, kompetisi dan monopoli, loyalitas pelanggan, pelanggan multi operator, rilaku pelanggan telepon seluler, subscriber behavior | 1 Comment »
Booming Seluler & Kesejahteraan Masyarakat (by Yudi Pram)
Posted by yudipram on July 26, 2008
malam saya bertemu kawan saya semasa kuliah dulu, Bang Jilal Mardhani. Pada akhir pertemuan kami sempat membicarakan perkembangan Industri Jasa Telepon Seluler di Indonesia ini . Menurut Asosiasi Telepon Seluler Indonesia, jumlah pelanggan telepon seluler (ponsel) di Indonesia telah menembus angka lebih dari 100juta pelanggan. Jadi penetrasinya terhadap jumlah penduduk nasional sudah lebih dari 40%. Pesta pora kalangan pebisnis seluler dan yang terkait, memang sedang berlangsung meriah. Dari anak SD sampai dengan Kakek-Nenek sekarang sudah pegang ponsel. Produsen dan penjual handset, Operator, dealer dan distributor kartu seluler, dan pembuat content pada saat ini, sedang memanen hasil yang berlimpah. Selain itu, dengan komposisi lebih dari 90 % pelanggan ponsel adalah pelanggan pra bayar, maka bisnis jasa seluler merupakan bisnis yang sangat likuid. Duit (pendapatan) sudah diterima di depan, meskipun jasa ponsel belum dipakai pelanggan. Gurih sekali memang! Makanya Syech Qatar pun tergiur oleh profil sintal Indosat Read the rest of this entry »
Posted in Industri Telekomunikasi | Tagged: manfaat ponsel, penetrasi pelanggan, pola konsumsi marginal, pra bayar, telepon seluler, voucher denominasi kecil | 3 Comments »
Meng CLASSY kan pelanggan TRENDY (by Yudi Pram)
Posted by yudipram on July 5, 2008
Buat yang familiar dengan produk flexi (si bukan telepon biasa, karena memang suka error), pasti
berkomentar, kok judul tulisan ini Telkom banget? Embeeer..! Kali ini saya ingin mengulas obrolan singkat dengan kawan saya di Lantai 4 Gedung Menara R&D Center Telkom pada hari kamis yang lalu. Booming kartu pra bayar seluler memang menimbulkan aspek positif dan negatif terhadap operator. Ada untung-rugi yang muncul kalau diperbandingkan antara kartu pra bayar dan pasca bayar, gambarannya antara lain sebagai berikut:
|
|
Keuntungan bagi operator |
Keuntungan bagi pelanggan |
Kerugian bagi operator |
Kerugian bagi pelanggan |
|
Kartu pasca bayar (contoh flexi classy) |
Database pelanggan terjaga Nomor ngga hambur |
Kartu on terus, ga ada matinye |
Collection terganggu potensi bad debt (mesti siap2 nyewa preman) |
Tidak ada control penggunaan, bisa bobol pas bayar tagihan |
|
Kartu pra bayar (contoh flexi trendy) |
Likuiditas terjaga, pendapatan di peroleh di muka (bukan di jidat) |
Ada kendali penggunaan, isi dompet ga abis buat pulsa |
Sumber daya nomor habis dihambur-hambur oleh pelanggan yang one shot |
Kalau lupa ngisi pulsa, nomor akan hangus, cape lagi ngisi phonebook |
Posted in Industri Telekomunikasi | Tagged: flexi classy, flexi trendy, kartu seluler, marketing telekomunikasi, pasca bayar, pra bayar, relationship management | 1 Comment »
Customer (Mono) Loyalty is Dying……. (by Yudi Pram)
Posted by yudipram on June 23, 2008
Statement pada judul di atas adalah kesimpulan kami, atas survey yang dilakukan setelah secara periodik, selama 4 (empat) tahun berturut-turut 2005,2006,2007,2008 dilakukan survey terhadap para pelanggan jasa telepon di 3 (tiga) kota besar Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Boleh dibilang ini adalah longitudinal study, dilakukan secara beruntun dengan interval waktu yang sama. Dalam survey yang biasa dilakukan antara bulan Mei – Juni ini, Saya bersama tim, menemukan bahwa angka pelanggan yang menggunakan jasa dari beberapa operator sekaligus cenderung meningkat. Pelanggan seperti ini kami istilahkan dengan pelanggan multi operator. Dari hanya belasan persen (% ) pada tahun 2005, meningkat terus hingga angkanya berada dalam kisaran 30-40 %. Jadi sudah tidak ada lagi perilaku loyal pada satu operator saja. Layaknya seorang playboy, palanggan telepon sekarang cederung menggandeng sekaligus beberapa operator sebagai mitra pemenuh kebutuhan telekomunikasinya. Si pelanggan multi operator ini beberapa menit menggunakan jasa dari satu operator, setelah selesai, di beberapa menit yang lain mereka dapat segera menggunakan jasa operator yang lain. Apalagi jika mereka termasuk kelompok hypercallmaker, pelanggan yang hobinya nelepon sampai kuping panas. Pelanggan ini kuat berlama-lama menelepon, mungkin karena didoping viagra atau sejenisnya. Read the rest of this entry »
Posted in Industri Telekomunikasi | Tagged: cellular telecommunication, customer loyalty, multi operator subscriber, telephone service, usage, user | 8 Comments »
Partnership, Bundling, dan Cross Selling Telkomsel (by Yudi Pram)
Posted by yudipram on May 30, 2008
Coba liat Promosi Telkomsel di Koran-koran hari ini. Setidaknya ada tiga hal yang dilakukan dalam promosinya kali ini, antara lain: (i) telkomsel melakukan kemitraan (partnership) dengan Samsung sebagai produsen customer premises equipment (CPE) atau yang menyediakan peralatan telekomunikasi yang porsinya ada dipelanggan/ handphone; (ii) telkomsel mengabungkan (bundling) penawaran produk kartu SIM nya dengan handphone Samsung yang merupakan CPE; (iii) telkomsel melakukan penjualan silang (cross selling) produk kartu SIM nya dengan produk broadband akses internet telkomsel flash. Pada saat ini, Partnership, Bundling dan Cross Selling, sudah menjadi pilihan favorit para pemasar untuk meningkatkan nilai penawaran (value offering) kepada para konsumennya. Resep ini banyak digunakan oleh perusahaan, terutama ketika menghadapi himpitan persaingan dan peningkatan posisi tawar konsumen yang semakin tinggi. Market leader kan memang harus kreatif bro……!
Mengapa perlu Strategi Partnership, Bundling, dan Cross Selling? Read the rest of this entry »
Posted in Industri Telekomunikasi | Tagged: bundling, crossselling, iklan, partnership, telkomsel | Leave a Comment »


