Yudipram Knowledge Brokering Forum

observe, think, feel, & speak up !!!

Archive for the ‘Life & Personal Skill’ Category

Efisiensi & Social Responsibility (by: Yudi Pram)

Posted by yudipram on November 4, 2011

Ada dialog yang menarik dalam satu scene film Hollywood  ketika seorang polisi memergoki penjahat yang memiiki percetakan uang palsu. Sang Polisi  menganggap penjahat itu sedang menjalankan keserakahan, namun penjahat tersebut berpendapat bahwa yang sedang dikerjakannya adalah menciptakan kemakmuran. Keserakahan dan kemakmuran nampaknya istilah yang berbeda sangat tipis saja jika kita tidak tega atau tidak bersedia menyebutnya sama. Keserakahan adalah istilah dalam konteks sosial, sedangkakan kemakmuran adalah dalam konteks individu atau personal. Obyek dari dua istilah tersebut pada dasarnya adalah sama, yaitu mengeksploitasi dan mengkonsumsi sumber daya untuk memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan manusia yang tidak pernah habis-habisnya. Mengejar keserakahan atau kemakmuran ini sebenarnya fine-fine saja kalau sumber daya ini tersedia dengan berlimpah sepanjang masa. Memuaskan keserakahan dan kemakmuran menjadi permasalahan dan isyu yang besar ketika semuanya akan habis dan tidak terbarukan (non renewable). Padahal dunia ini adalah pinjaman yang harus dikembalikan secara utuh kepada anak cucu atau generasi mendatang, bukan warisan dari nenek moyang atau generasi terdahulu. Generasi yang akan datang adalah stakeholder yang harus diperhatikan kepentingannya ketika kita semua mengambil keputusan pada saat ini. Oleh karena itu, sangatlah bodoh jika ada orang tua atau generasi terdahulu yang tidak mau merencanakan masa datang. Tidak ada justifikasi yang elegan buat yang menentang keluarga berencana. Sangatlah bodoh jika bersandar pada pandangan bahwa semua rejeki anak cucu kita sudah diatur oleh Allah. Ada kontribusi dari orang tua dan generasi terdahulu terhadap kesejahteraan anak cucunya. Jika orang tua terdahulunya  bertindak bodoh dan kurang pengetahuan, maka kehancuran akan menimpa generasi berikutnya. Jika generasi terdahulunya  serakah dan mengeksploitasi bumi tanpa perhitungan, maka kehancuran akan menimpa generasi berikutnya.

Yang bisa kita lihat dan rasakan sekarang ini, atas nama kemakmuran, manusia dapat dengan ringan membabat habis pohon di hutan, menguras ludes ikan dilaut, meratakan gunung bahkan menggali danau sebagai dampak dari kegiatan penambangan. Meskipun pada kenyataannya kemakmuran yang dicapai hanya akan dinikmati segelintir orang pemilik modal dan kekuasaan. Disinilah istilah keserakahan menjadi lebih cocok. Keadaan ini  tentu saja sangat menghawatirkan karena sunnatullah nya tidak demikian. Sesungguhnya manusia diberi tugas mulia menjadi khalifah yang harus mengelola bumi dan segala isinya secara terpelihara. Jadi gaya hidup hijau yang sekarang rajin digembargemborkan kaum environmentalist, kaum yang peduli kelestarian lingkungan itu adalah sunnaltullah. Memanfaatkan semua sumber daya seefisien mungkin adalah keharusan, syukur-syukur semuanya bisa terbarukan. Salah satu statement Allah sebenarnya cukup jelas, manusia tidak boleh lalai dan bermegah-megahan (Attakasur/QS102-1). Messagenya jelas bahwa efisiensi itu it’s a must. Pengembangan teknologi yang ramah lingkungan harus menjadi misi hidup umat manusia. Oleh karena itu tidak ada dikotomi antara agama, science, dan teknologi. Karena untuk menjalankan agama dengan baik, umat manusia perlu dipasok oleh science dan teknologi yang terus berkembang dan dimutahirkan. Kalau misi memelihara bumi ingin dieksekusi dengan sempurna oleh manusia maka science dan teknologi harus terus diulitilasi. Utilisasi science dan teknologi akan mengefisienkan pemanfaatan sumber daya dan memperbaharui kerusakan yang sudah dibuat generasi terdahulu.

Lalu kenapa harus ada social responsibility? Sumber daya itu selain terbatas dalam jumlah, juga tidak semua orang punya akses untuk memperoleh sumber daya. Seandainya pun seseorang punya akses, tetapi produktivitas manusia pada dasarnya berbeda-beda. Oleh kerena itu, muncullah istilah keserakahan. Orang yang ngotot mendulang kemakmuran dalam lingkungan sosialnya akan dianggap serakah.  Sebenarnya, ketika manusia lahir ke dunia, pada dasarnya dia datang dalam posisi yang sama: lemah, tanpa kemampuan, dan tidak punya apa-apa. Tapi ketika waktu bergulir dari tahun ke tahun, kemajuan yang dicapai oleh masing-masing individu berbeda-beda. Ada yang menjadi kuat, mampu, dan kaya. Namun ada juga yang tetap lemah, kurang mampu, dan tetap miskin. Disinilah fungsinya social responsibility. Tanggung jawab sosial adalah elemen penawar bagi keserakahan. Elemen penyeimbang bagi akumulasi sumber daya yang tidak merata menghampiri manusia.  Dalam perjalanan hidupnya manusia harus menjalankan fungsi redistributif. Fungsi yang memeratakan kemakmuran sehingga mempu menggantikan istilah keserakahan. Berikanlah bantuan bagi orang-orang yang tidak punya akses pada resources (Almaun/QS107-1,2,3). Dan kita tidak perlu ketakutan kehilangan kemakmuran, karena statement Allah juga cukup jelas bahwa sumber daya itu tidak perlu diakumulasi dan dihitung-hitung (Alhumazah/QS104-2,3). Mari kita menyambut idul adha 1432 H, tunjukkan social responsibility anda… yuks mareee……….

Posted in Life & Personal Skill | Tagged: , , , , , | Leave a Comment »

The Normal Sense of Fallacies (By Yudi Pram)

Posted by yudipram on October 3, 2011

Saya merasa jengkel ketika ada mahasiswa S2 yang sudah tua dan mengaku sibuk di kantornya memaksa saya untuk memberi kebijaksanaan atas ketidaklulusan beliau di mata kuliah saya. Meskipun dia tahu bahwa dia sudah melanggar aturan akademis mengenai kehadiran, namun secara implisit dia menunjukkan sikap bahwa aturan tersebut bisa ditawar dan saya diminta mengubah nilai saya untuk memuluskan keinginan mereka. Apalagi beliau yang merasa lebih tua, lebih kaya dan berkuasa di kantornya. Saya sengaja bersikukuh bahwa tidak ada perlakuan khusus untuk kasus ini dan beliau tetap harus ikut mengulang mata kuliah saya di angkatan berikutnya. Menurut hemat saya, pertama, hal-hal yang seperti inilah yang menjadi budaya sebagian besar bangsa Indonesia sehingga bangsa ini nasibnya selalu pas pasan, marginal, serta tidak punya harga diri yang tinggi dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia; Kedua, sebagai WNI yang terpelajar dan sudah senior harusnya beliau memberikan contoh yang baik, bukannya malah membangun preseden yang negatif.

Iya, penyakit sebagian besar bangsa ini adalah menganggap pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan itu adalah sesuatu yang normal jika dilakukan oleh banyak orang. Ini bahaya, apalagi kondisi demokrasi kita sedang kebablasan, jika semua orang setuju maka sesuatu yang salahpun jadi tidak bermasalah. Meskipun tindakan itu salah, namun jika dilakukan sekelompok, sekampung, senegara maka dianggap hal yang wajar. Inilah yang disebut dengan fenomena ‘normal sense of fallacies’, kesalahan adalah kejadian normal jadi jangan dipersoalkan lagi. Beberapa contoh ketidaknormalan yang pada saat ini diminta dianggap menjadi normal antara lain: (i) Kalau murid-murid mau lulus dan punya NEM bagus pada Ujian Negara (UN) maka boleh nyontek rame-rame. Murid yang tidak nyontek dan melaporkan kegiatan nyontek malah dimusuhi oleh semua orang dan diusir dari kampungnya. (ii) Kalau kita mau bikin Paspor, SIM, KTP, dan macem2 Ijin harus melalui calo yang akan memungut biaya berkali-kali lipat. Bisa lewat calo ber NIP BAKN atau calo swasta profesional. Kalau kita urus lewat jalur normal dijamin lama, menghabiskan waktu, dan menguras emosi, serta tidak ada pelayanan yang wajar pada jalur mormal. (iii) Kalau kita mau melamar kerja (ke lembaga dan perusahaan lokal yang dikelola secara kampungan) maka harus nitip dan punya saudara. Kalau tidak ada koneksi jangan harap akan lulus karena pegawai baru yang lulus adalah sanak saudara dari manajer SDM dan pimpinan lembaga/perusahaan tersebut. (iv) Kalau ditilang polisi atau satpol PP, tidak perlu sidang dan bayar denda sesuai dengan aturan yang berlaku, tapi cukup selipin aja uang salam tempel agar kasus anda berhenti disitu dan tidak diteruskan ke pengadilan. (v) Kalau korupsi berjamaah itu rasanya bukan korupsi, karena kalau nyolongnya banyakan terlihat tidak seperti nyolong dan tidak apa-apa. Jadi jangan heran kalau penjara dan rumah tahanan kejaksanaan penuh dengan anggota DPR/DPRD yang hobby menilap uang APBN/APBD. (vi) Kalau mamah ditagih sama debt collector kartu kredit, bilang aja mamah tidak ada dirumah ya nak… kata seus dulpi, ibu muda yang sudah mulai banyak utang karena gaya hidupnya. (vii) Dan lain lain kasus sejenis dan setype Mengapa normal sense of fallacies ini bisa mewabah di Indonesia? Jawabannya sederhana karena di Indonesia ini terlalu banyak contoh buruk yang gamblang bisa dilihat oleh siapapun. Dan celakanya yang memberikan contoh buruk itu adalah orang yang sudah tua, yang sudah kaya, dan yang sedang berkuasa. Keteladanan pada hal-hal yang negatif ini pada akhirnya menjadi virus akut yang menggerogoti integritas dari sebagian besar bangsa ini. Hal hal buruk ini mewabah diikuti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dari semua strata sosial dan latar belakang pendidikan. Oleh karena itu, pekerjaan besar dari bangsa ini adalah mengubah paradigma yang kemudian harus berujung pada perubahan prilaku. Paradigm bahwa semua cara itu adalah halal, harus segera dirubah bahwa hanya sebagian cara saja, khususnya cara yang baik yang bisa dibilang halal. Cara-cara yang buruk dan tidak beradab harus dihapus dari memori dan tidak dilakukan lagi. Harus diingat pula bahwa cara yang haram itu dosa, dan dosa itu ada sangsinya di akherat kelak.

Jadi untuk memperbaiki harga diri bangsa kita harus dilakukan antara lain adalah: (i) Tidak mentoleransi pelanggaran sekecil apapun. Dalam jangka panjang pelanggaran kecil akan menjadi latihan yang efektif untuk melakukan pelanggaran yang lebih besar dan pada akhirnya menjadi pelanggar yang professional (ii) Berikan apresiasi yang tinggi pada anak-anak yang mempraktekan kejujuran dan ketaatan. Berikan pengertian, edukasi, dan sangsi pada anak-anak yang melanggar (iii) Mulai dari sekarang tidak lagi menggunakan jasa calo (ini memang berat, karena akan korban waktu dan perasaan) (iv) Konsisten terhadap aturan dan system. Kalau aturannya jelek perbaiki segara dengan menyanyakan kepada orang bijak yang berwawasan luas, jangan dijustifikasi oleh pendapat orang banyak.

Posted in Life & Personal Skill | Leave a Comment »

Fluktuasi dan Siklisiti (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on August 2, 2011

Mengapa dalam manajemen strategik kita harus melakukan analisis internal dan eksternal atau yang lebih popular dengan analisis SWOT? Jawabannya sederhana! Pada dasarnya di dunia ini tidak ada yang langgeng, ini sudah menjadi sunatullah. Hidup itu berputar dengan kecepatan putar yang tidak monoton. Pendapat yang menyatakan bahwa bumi itu datar terbantahkan ketika Columbus menemukan benua amerika, sekaligus berkeliling dunia. Kalau baru-baru ini Thomas L Friedman menulis buku ‘the world is flat’, itu adalah situasi datar secara imajiner saja. Imajinasi kedataran yang timbul akibat tidak adanya ‘delay dan time lag’ dalam diseminasi informasi akibat kecanggihan teknologi. Delay dari satu belahan bumi ke belahan bumi lain tidak terjadi lagi karena ada ICT. Namun sesungguhnya kehidupan yang ‘plain dan flat’ itu tidak ada. Kedataran dan situasi statis itu tidak terjadi dalam jangka panjang. Segala sesuatu akan bergejolak dalam kerangka waktu yang lebih lama. Situasi kemapanan pada akhirnya akan sampai pada penghujungnya. Suharto, Marcos, Saddam Husein, dan Hosni Mubarak akhirnya jatuh. Lehman Brother, perusahaan yang sudah ratusan tahun pun bisa hilang begitu saja. Disinilah esensi dari pentingnya analisis SWOT, mengenali kekuatan dan kelemahan organisasi sambil mengetahui peluang dan ancaman yang ada diluar organisasi. Kegunaannya adalah agar langkah-langkah untuk ‘survive dan sustainable’ dapat segera dirumuskan. Kata Charles Darwin sang pencetus teori evolusi, yang bisa bertahan hidup lama bukanlah yang paling kuat, tapi yang paling cepat melakukan penyesuaian dengan lingkungan. Betapa kekuatan lingkungan semesta bukan sesuatu yang bisa dilawan, namun sebaliknya harus diakomodasi. Masalahnya, kita tidak pernah tahu secara akurat bagaimana dinamika lingkungan. Oleh karena itu, perusahaan yang hebat adalah perusahaan yang adaptif terhadap lingkungan (baca buku alfin tofler ‘adaptive corporation’). Perusahaan dapat bertahan hidup dan bahkan tumbuh jika berhasil menyesuaikan kekuatan dan kelemahannya terhadap peluang dan ancaman yang ada pada lingkungan bisnisnya. Demikian juga dengan individu, individu yang hebat adalah individu yang tidak tenggelam dalam ganasnya lingkungan, namun individu yang mampu berenang dan bertahan dalam pasang surutnya perubahan lingkungan.

Jadi dalam lingkungan bisnis (dan juga lingkungan individu & privasi kita) pada dasarnya terdapat  flutuasi dan siklisiti. Ada naik turun (fluktuasi) dan ada perputaran musim (siklisiti). Di lautan akan ada  ombak atau gelombang kecil dan besar yang siap menerjang kapal. Di daratan akan ada lembah dan puncak gunung yang harus didaki, akan ada hutan belantara dan gurun pasir yang harus dilalui. Ada musim yang berputar silih berganti. Sebagai dampaknya muncullah kesukaran dan kemudahan yang akan menghiasi rekam jejak perusahaan maupun kita sebagai individu. Seperti yang dikatakan Tuhan pada al insyiraah QS94:2-3. Beban yang ringan dan yang berat akan datang silih berganti. Setelah kita susah payah belajar untuk lulus ujian, maka akan ada ujian berikutnya pada tingkatan yang lebih tinggi. Life cycle perusahaan dan individu adalah perjalanan dengan intensitas tantangan dan peluang yang scattered dan harus direspon dengan kekuatan dan kelemahan yang ada pada perusahaan atau individu. Tapi ini bukan suatu games atau permainan   yang sia-sia dan tanpa makna. Jika prosesnya dilakukan secara normal tanpa distorsi, semuanya akan menghasilkan kematangan, maturity, kekokohan dalam arti yang luas. Kokoh karena fondasi organisasi atau individu akan terkait dan terikat pada  prinsip prinsip universal yang mengakar pada kebenaran yang hakiki. Kunci keberhasilannya adalah optimisme dan kelapangan dada, karena  dalam tantangan seberat apapun akan terselip peluang, dalam setiap kompleksitas akan ada simplisiti atau kesederhanaan, dalam setiap kesulitan akan ada kemudahan (QS94:5). Yang penting adalah kesungguhan melakukan effort atau upaya yang dalam koridor jalan lurus dan jalur putih yang diridloi Gusti Allah. Siasat licik, menerabas nilai-nilai dan etika, serta melanggar hukum tetap wajib dihindari mati-matian meskipun akan membawa pada kemudahan. Karena jalan sesat dan jalur hitam ini adalah kemudahan semu yang destruktif terhadap system kehidupan secara keseluruhan. Tidak ada gunanya kita lulus kalau nyontek, tidak ada nilainya kita kaya kalau korupsi. Sebagai khalifah di atas bumi, maka tidak selayaknya kita berkontribusi pada upaya destruktif, namun sebaliknya harus konstruktif dalam membangun system kehidupan dan peradaban manusia. Dengan demikian, baik dalam kesulitan maupun kemudahan, proses dan hasil adalah dua hal yang harus dinikmati dan dilalui dengan cara-cara halal.

Namun keseriusan upaya dan kerja keras yang bukan satu satunya langkah yang harus dilakukan kita dalam rangka melintasi fluktuasi dan siklisiti. Lingkungan eksternal pada dasarnya adalah obyek yang uncontrollable. Terlalu banyak variable yang berpengaruh dan tidak semuanya mampu diidentifikasi oleh ilmu manusia. Sains dan teknologi tidak akan mampu memodelkan secara lengkap interaksi  variable dan kekuatan yang terdapat di lingkungan eksternal. Akan selalu ada faktor luar atau epsilon yang tidak terkendali. Oleh karena itu, meskipun kita sudah berusaha keras maka jangan lupa bahwa  harapan untuk berhasil 100% harus digantungkan kepada yang di atas (QS94:8). Status berhasil ini sangat penting bagi perusahaan dan individu, karena rekam jejak keberhasilan inilah yang akan meningkatkan brand kita (QS94:4). Nama kita akan menjadi tinggi dengan ijin Allah. Jadi jangan cemas dan takut menghadapi fluktuasi, siklisiti, perubahan, transformasi, dinamisasi, dan bentuk bentuk goncangan lainnya. Hadapi dan lalui dengan strategi yang tepat sesuai denga kekuatan dan kelemahan kita masing-masing. Dengan bekal kecerdasan dan keimanan semuanya bisa dilalui. Dan ketika kita berhasil, maka akumulasi keberhasilan ini akan semakin membentuk brand kita yang semakin kuat……wa rafana laka dzikrok….

Posted in Bisnis & Manajemen, Life & Personal Skill | Leave a Comment »

Mengubah dari Dalam atau Meruntuhkan dari Luar (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on April 2, 2009

constructionSebagai elemen kecil dalam atmosfir kehidupan yang sangat luas, kita terpaksa harus hidup dalam tananan atau sistem eksisting yang memayungi kita hidup saat ini. Entah itu sistem pengelolaan  di perusahaan, sistem demokrasi di satu Negara, atau sistem moneter dunia, dan sistem-sistem lainnya. Celakanya, sering kali kita merasa tidak nyaman atau tidak cocok dengan sistem yang sudah ada pada saai ini. Harap maklum, kebutuhan dan keinginan manusia adalah moving target yang bergerak liar. Masalahnya jika kita menginginkan perubahan sistem, lalu bagaimana? Kalau kita menginginkan sistem yang mengakomodasi kepentingan dan keinginan kita, apa yang harus dilakukan? Ya harus melawan dan berusaha melakukan perubahan, sekecil apapun. Secara konseptual caranya sederhada saja. Kalau anda menginginkan perubahan suatu sistem, anda dapat melakukannya dimanapun anda berada. TIdak peduli siapa anda, apa profesi anda, dan dimana anda tinggal! selama anda melakukan upaya memperjuangkan perubahan sistem tersebut secara konsisten serta dengan intensitas yang semakin meningkat, maka Insya Allah perubahan yang anda inginkan akan terwujud. Intinya perubahan dapat dilakukan baik dari dalam maupun dari luar sistem. Contoh soal, perjuangan pada cendikiawan bumi putera dalam berdiplomasi di luar negeri dan perlawanan para pahlawan kemerdekaan di dalam negeri, telah melahirkan Negara Kesatuan Indonesia. Kegigihan Ramos Horta dari luar negeri dikawinkan dengan perjuangan  Xanana Gumao di hutan-hutan timor timur, berhasil memerdekakan Timor Leste.  Mengubah dari dalam dan meruntuhkan dari luar sama efektifnya, kalau itu dilakukan secara kontinyu. Yang penting adalah magnitude nya harus diperbesar sampai pada kekuatan yang mampu menggoyahkan sistem tersebut. Dengan demikian, kalau ingin lebih efektif, maka perubahan sistem harus digempur dari dua arah, digempur dari dalam, dan secara simultan diserang dari luar system juga. Read the rest of this entry »

Posted in Life & Personal Skill | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Stop Dreaming, Start Driving! (By Yudi Pram)

Posted by yudipram on December 3, 2008

start-drivingKalau anda mimpi ingin punya BMW, namun apa daya uang tak cukup, maka mulailah mengkreditnya agar anda dapat segera mencicipi nikmatnya naik BMW, begitulah iklan mobil itu membujuk anda. Just do it, kalau kata Nike (nike sepatu, bukan nike ardila almarhumah!). Saya tidak bermaksud mengiklankan BMW, tapi Title dari Iklan BMW di Harian Kompas 2 Desember 2008, berbunyi: “Stop Dreaming, Start Driving!” memang layak untuk dijadikan petuah. Ini adalah pernyataan pengingat, kalau tidak bisa disebut sebagai teguran, agar kita selalu bertindak seimbang dan proporsional. Memberikan alokasi yang adil (namun tidak berarti harus sama bagiannya) antara bermimpi dan bertindak.  Bermimpi memang penting, tetapi bertindak lebih penting lagi. Karena apa yang ada dalam mimpi, hanya bisa diraih dengan tindakan. Oleh karena itu, segeralah selesaikan mimpi anda yang ada diawang-awang, lalu bangun dan mulailah berbuat di dunia realitas. Sejatinya, tindakan andalah yang akan mendekatkan kesenjangan antara tataran realitas (atau kenyataan), dengan tataran mimpi (atau angan-angan).  Semakin ekstensif dan intensif anda bertindak, maka akan semakin dekatlah jarak antara realitas dan mimpi. Jadi janganlah mengendurkan tempo kerja dalam mengeksekusi tindakan, rangkaian tindakan, dan strategi anda dalam menggapai mimpi. Dalam tempo kerja, anda harus mengatur  kecepatan (speed) dan kekuatan (endurance), agar segera terjadi coitus legal formal (yang tidak interuptus) antara mimpi dan realitas. Eiiit…, jangan mikir negatif dulu! Maksudnya disini adalah mimpi dan realitas itu menjadi bersatu sehingga mampu beranak-pinak menghasilkan mimpi-mimpi baru dan tindakan-tindakan baru yang lebih produktif. Hal ini mungkin terjadi, karena hasil pembelajaran dan kesuksesan dari proses sebelumnya akan mendorong kita untuk mengulangi dan mendapatkan kembali kesuksesan yang pernah diraih. Kondisi ini sangat manuasiawi, karena manusia memang tidak pernah merasa puas. Dikasih hati, minta jantung. Dikasih satu juta, minta satu milyard. Dikasih lima tahun berkuasa, minta 32 tahun. Dikasih SMA, minta S3. Dikasih Minah, minta Dian Sastro. Dikasih Paijo, minta Brad Pitt. Dst…dst… Namanya juga manusia…………..bukan malaikat! Malah ada yang lebih aneh, udah mau dikasih eksekutif mapan, eeh malah milih tukang cendol dekil…., anti klimaks boo, downward spiral! Read the rest of this entry »

Posted in Life & Personal Skill | Tagged: , , , , , , , , | 4 Comments »

Difficult, Yes. Impossible, No. (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on November 29, 2008

namcheju-pltdStatement pada judul tulisan ini, saya dapatkan ketika barusan saya melihat iklan perusahaan minyak SHELL di majalah Fortune edisi november 24,2008 yang lalu. Ini pernyataan yang hanya terdiri dari 4 kata, tetapi sangat inspiring, mengajarkan pada kita untuk tidak cengeng dan lembek dalam menggapai cita-cita dan keinginan. Ini suatu pernyataan bertuah yang tidak diciptakan begitu saja oleh orang-orang shell, tetapi merupakan kesimpulan atas akumulasi pengalaman mereka selama 50 tahun yang lalu mencari ladang-ladang minyak di Kanada. Menemukan cadangan minyak di dalam perut bumi dan mengeksplorasinya untuk kemaslahatan serta kesejahteraan hidup masyarakat dunia memang bukan pekerjaan mudah. Investasi berupa uang, tenaga, dan waktu bisa hilang begitu saja manakala mereka salah melakukan pengeboran (Bakrie yang berharap dapat harta karun minyak, malah ketiban lumpur, apa nggak sial tuh….). Namun 5 dekade kemudian, keuletan orang-orang SHELL pada akhirnya memberikan hasil, pada saat ini Kanada sudah menjadi penghasil minyak global, mampu mengjungkirbalikan dominasi OPEC yang berupaya membentuk kartel dan mempolitisir minyak bumi.    Read the rest of this entry »

Posted in Life & Personal Skill | Tagged: , , , , , | 2 Comments »

Kapan Anda Memerlukan Kreativitas? (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on November 24, 2008

alternatif‘Hidup adalah perbuatan’ begitulah kata penyair Chairil Anwar, yang kemudian dikutip menjadi tagline iklan kampanye salah seorang politikus yang berambisi menjadi calon presiden RI pada pemillu tahun 2009 yang akan datang. Pernyataan itu benar adanya atau ‘absolutely right’, eksistensi anak cucu adam di muka bumi ini ditentukan oleh amal ibadahnya atau perbuatannya. Kalau anda tidak pernah berbuat apa apa, maka anda hanya akan menjadi orang yang mudah dilupakan oleh orang lain (Keberadaan dan ketidakberadaan anda sama saja, sedih kan?). Dalam bahasa yang lebih terang, kehebatan seseorang itu ditentukan oleh hasil karyanya. Output atau deliverables dari masa hidup yang diamanahkan oleh sang khalik pada anda adalah karya-karya anda. Semakin banyak dia berkarya dan berbuat bagi banyak orang maka semakin eksis lah dia.  Kalau anda tidak menghasilkan apa-apa maka hidup anda hanyalah bergerak dalam kondisi ‘from nothing to nothing again’. Tapi untuk bisa berkarya anda tidak perlu atau tidak harus menjadi anggota Golongan Karya (baik golkar lama maupun golkar baru), atau partai politik lainnya. Di dunia apapun: politik, sosial, dan bisnis, anda dapat menghasilkan sesuatu. Carilah dunia yang cocok dengan potensi dan keterbatasan diri anda. Yang cocok di New York berkaryalah disana. Yang cocok di Cimahi ya di Cimahi saja. Demikian juga yang nyungsep di Cileunyi yang di Cileunyi saja. Namun perlu diingat bahwa soal karya ini, kita harus melihatnya dalam  dua dimensi, yaitu (i) dimensi perbuatan manusia sebagai mahluk terhadap tuhan penciptanya, dan  (ii) dimensi perbuatan manusia terhadap sesame mahluk lain ciptaan tuhan. Kalau anda dapat berkarya dalam 2 (dua) dimensi ini secara maksimal, maka anda benar-benar telah menjadi orang yang berilmu tinggi, sekaligus juga beramal maksimal. Read the rest of this entry »

Posted in Life & Personal Skill | Tagged: , , , , | 3 Comments »

Jangan Jadi Sarjana Kertas (By Yudi Pram)

Posted by yudipram on August 15, 2008

Dalam pidatonya pada peresmian penerimaan mahasiswa baru ITB 2008-2009, Rektor ITB, Prof. Dr. Djoko Santoso, mewanti-wanti agar lulusan perguruan tinggi tidak menjadi “Sarjana Kertas” (Pikiran Rakyat, 14/08/08). Sarjana kertas adalah bukan dalam pengertian sarjana yang ahli membuat kertas, sehingga bisa kerja di pabrik pulp Indah Kiat. Tapi yang dimaxud sarjana kertas adalah sarjana yang lulus hanya karena ijasah tanpa disertai kemampuan sesuai dengan bidang yang ditekuninya di perguruan tinggi tempat dia belajar. Beliau mengingatkan bahwa mahasiswa jangan hanya mengejar kertas ijasah, tetapi harus  mengembangkan kapasitas. “Sarjana harus memiliki kapasitas yang cukup untuk berbuat kebaikan” tutur Rektor ITB tersebut.

Ada yang menarik dari pernyataan pak rektor ini. Bahwa ukuran kesarjanaan seseorang itu ternyata bukan dari kertas ijasahnya, namun dari kapasitasnya untuk berbuat kebaikan. Jadi kalau banyak lulusan perguruan tinggi yang menjadi koruptor, atau terlibat dalam kasus korupsi, ini sama artinya bahwa perguruan tinggi di Indonesia belum banyak yang berhasil menelorkan sarjana. Perguruan tinggi di Indonesia baru berhasil membagikan ijasah kelulusan karena yang bersangkutan telah menyelesaikan seluruh proses pembelajaran di perguruan tinggi tersebut. Masalah apakah bahan pelajarannya sudah dikuasasi dan terinternalisasi pada si calon sarjana, itu urusan lain. Jadi, apakah si lulusan telah menjadi sarjana atau belum, ternyata tidak dijamin oleh perguruan tinggi yang meluluskannya. What Indonesian Students! Read the rest of this entry »

Posted in Life & Personal Skill | Tagged: , , , , , , | 6 Comments »

What to Do When Your Boss is a Jerk (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on August 13, 2008

Dalam organisasi yang menganut sistem otoriter, biasanya berlaku 2 aturan. Aturan pertama adalah Boss always right. Boss itu selalu benar: gagasan, pikiran, konsep, prilaku, dan keputusannya itu tidak boleh dibantah!  Aturan kedua adalah if the Boss wrong, reread rule # 1. Kalau boss salah, baca lagi aturan pertama. Hahahaha ini namanya dwi-tunggal. Aturan yang di loop alias closed system, muter-muter aja disitu kaya bianglala dunia fantasi. Ini model demokrasi terpimpin ala orde baru.  Jadi boss memang enak, selalu merasa di atas angin. Lawan siapa pun selalu dan pasti menang, meskipun tidak didukung oleh Viking-bobotoh yang kampungan itu (ke..ke..ke..eh naha jadi mengkol ka Persib). Selama itu bawahannya si boss, maka bukanlah wasit yang berkuasa, tapi si boss lah yang berkuasa, dan wasit akan dipersilahkan si boss untuk duduk di bangku cadangan. Read the rest of this entry »

Posted in Life & Personal Skill | Tagged: , , , , , , | 3 Comments »

Keep Your Boss Happy (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on August 10, 2008

Ada lelucon basi yang masih relevan dengan tulisan ini, “apa bedanya sekretaris yang baik (a good secretary) dengan sekretaris yang cantik (a nice secretary)?” jawabannya : Perbedaanya baru ketauan pada kalimat pertama yang diucapkan si sekretaris di pagi hari. Si baik akan mengucapkan “good morning boss….” Karena baru ketemu lagi di pagi hari itu dan siap menerima pekerjaan baru untuk sepanjang hari itu, sedangkan Si cantik akan bilang “ its morning boss….” Karena dia bekarja hampir tidak sadar waktu, menemani si boss siang dan malam. Pertanyaan berikutnya adalah “Mana yang penghasilannya lebih besar? si baik atau si cantik?” Gw ga mw jawab, itu terserah loe aje. tapi yang jelas si boss pasti gajinya yang paling besar.

Point yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kita tidak bisa munafik (jadi bukan munadi atau munawar! Kalau pak munadi itu kawan saya yang menjadi Ka Divisi Telkom CIS, sedangkan pak munawar itu kawan saya seangkatan di PL-ITB dulu ………..hahaha ngelantur). Ya, pokoknya kita tidak bisa munafik lah bahwa kalau bekerja itu pada dasarnya kita berharap income, fringe benefit, dan bahkan kalau punya prestasi hebat malah kita berharap ada rewards khusus. Jadi bohong, kalau ada orang yang beralasan bahwa bekerja itu dilakukan karena ingin mengembangkan bakat. Pengembangan bakat itu hanya sasaran antara (intermediary goals) , namun sasaran akhirnya pastilah sesuap berlian. Hanya pertanyaannya, bagaimana caranya agar ketiga hal tadi (income, fringe benefit, dan rewards) dapat diperoleh secara maksimal?. Jawabannya cukup sederhana: berbaik-baiklah dengan boss anda, bikin boss anda always happy! (ajaklah si boss untuk menyanyi “don’t worry………..be happy!”) Read the rest of this entry »

Posted in Life & Personal Skill | Tagged: , , , , , , | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.