Yudipram Knowledge Brokering Forum

observe, think, feel, & speak up !!!

Bisakah Perusahaan Menekan Supplier? (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on July 4, 2008

“Ya sudah nanti kita nego saja sub kontraktornya semaksimal mungkin, biar bisa pas dengan anggarannya, posisi tawar kita kan kuat!”  Itu kalimat yang sering muncul dari kawan saya, 15 tahun yang lalu, waktu kami menerima persetujuan anggaran dari bos, yang ternyata angkanya meffet sureffet alias pas-pasan. Padahal, kita sebagai planner, pada saat pengajuan anggaran sudah menyiapkan sand begging buat cadangan agar lebih leluasa, . Tapi bos sudah pengalaman, dia tahu persis kondisi lapangan, alhasil tidak ada reserve lagi. Duit yang diberikan akan di pas, dan jadilah kita negosiator yang ngotot minta harga murah apapun resikonya. Maklum perusahaan tempat kami bekerja saat itu, meskipun besar, namun masih dikelola dengan manajemen warung. Kita semua harus berusaha, kalau bisa, beli dengan harga semurah mungkin dan jual dengan harga semahal mungkin. Betul-betul asli menjadi economic seeker and economic animal, untung adalah segalanya, tidak peduli pihak lain tergencet. Trik bisnis jaman jahiliyah tuh. Sangat berorientasi jangka pendek, yang penting profit hari ini. Besok lusa kita cari lagi pelanggan lain. Pelanggan komplen sih cuekin saja, toh mereka perlu barang kita. Kira-kira begitulah pola pikirnya. Maklum persaingan belum ketat, apalagi orang ga bisa beli cash, jadi banyak yang minta pertolongan bank, si rentenir formal dalam sistem ekonomi kita.

 

Memindahkan masalah mepetnya anggaran yang kita miliki pada supplier, memang lazim terjadi ketika kita punya kegiatan yang melibatkan pihak lain sebagai vendor. Serahkan sub kon saja, kalau bolanya sudah di mereka,  kita tinggal tagih janjinya. Pertanyaannya sekarang, apakah cara ini masih relevan untuk diterapkan? Nampaknya kita harus mulai pintar untuk memilah-milah tipe pembelian dan tujuan pembelian yang dilakukan perusahaan terhadap suppliernya. Jika salah memutuskan bisa-bisa “ancur dagangan” (istilahnya Om Anjoy, kawan saya yang konsisten di bisnis Properti). Kalau sudah begini, masa depan perusahaan yang jadi taruhannya. Jadi cobalah lebih hati-hati, menurut hemat saya ada 3 (tiga) mendekatan yang perlu anda pertimbangkan dalam memperlakukan supplier dalam konteks transaksi bisnis, antara lain:

 

§   Buy for less. Ini adalah pendekatan yang tadi saya ceritakan di atas. Tekan supplier sekuat mungkin, dan dapatkan harga terendah. Tapi kita harus kalkulasi dulu dampaknya. Biasanya untuk mempertahankan margin yang memadai, supplier akan menghemat biaya dengan cara menurunkan kualitas. Ujungnya kita dapat barang yang jelek dari supplier (bisa tersamar atau terlihat jelas). Jadi pendekatan ini tidak cocok dilakukan, jika produknya supplier mempengaruhi kualitas akhir barang kita di tingkat end user, maka bisa-bisa kita juga yang akan susah. Siapa menabur murah, maka ia akan menuai komplen. Maksud hati mau hemat, apa daya produk jadi numpuk ngga laku. Wajar lah kalau ngga laku, maneh mah goreng! (ceuk si Dodo). Kalau begitu kapan kita pakai buy for less? Anda bisa gunakan buy for less untuk membeli barang-barang yang sifatnya tidak mempengaruhi kualitas produk di konsumen akhir, misalnya membeli ATK kantor, Sewa Tempat yang bukan Untuk Pelanggan, atau Jasa konsultansi yang hanya untuk mencari second opinion.

 

§   Consume better. Ini adalah pendekatan dimana perusahaan mempertimbangkan kualitas produk dari supplier, karena akan mempengaruhi produktivitas karyawan dalam bekerja. Meskipun tidak mempengaruhi produk akhir di end user, kualitas produk supplier harus diperhatikan karena akan digunakan karyawan dan mempengaruhi cara kerja serta hasil kerja karyawan.  Jadi harga tidak boleh ditekan habis, agar dapat barang yang punya performa baik. Misalnya kalau anda membeli computer, UPS, AC kantor, mebeler, mobil operasional, dan telepon kantor harus memperhatikan kualitasnya. Kebayang kan, kalau alat-alat tersebut tidak berfungsi dengan baik, karyawan anda bakalan nganggur dan makan gaji buta. Persis seperti kawan saya yang menjadi PNS dan sudah jadi kabubdit, berkilah tidak diberi laptop dan ruang ber AC, sehingga lebih senang keluyuran di Mal. (Dia terinspirasi Tukul yang juga pake laptop, Gue maklum deh, lagian kalo pinter goblok pendapatan sama, ngapain juga kerja rajin-rajin). Wong keluyuran di Mal juga kan bisa dapet duit milyaran rupiah. Liat aja anggota DPR yang ditangkap di Plaza Senayan itu. Bisa dapet sogokan Dollar AS dan Euro di Mal dengan angka yang spektakuler, kan?

 

§   Sell better. Pendekatan ini adalah pendekatan yang menerapkan prinsipnya Steven Covey dalam 7 habits – “Mulai dari Akhir dalam Pikiran”. Intinya adalah, berawallah dari tujuan. Tujuan harus jadi konsideran utama dalam menentukan tindakan apapun. Karena tujuan kita mau menjual barang kita sendiri sebanyak-banyaknya, maka waktu membeli barang dari supplier, kita pun harus berfikir bagaimana si supplier ini dapat membantu kita berjualan dengan cara meningkatkan kualitas barang yang kita jual lewat produknya disupplaikan ke kita. (busyeet panjang amat kalimatnya). Jadi pada pendekatan ini, harga bukan pertimbangan utama, tapi kontribusi pada peningkatan kualitas produk dan daya tariknya terhadap end user kita, menjadi lebih diprioritaskan. Ini artinya go to hell with the low price, kalau barangnya jelek. Ngapain juga beli barang murah kalau jelek? Dengan pendekatan ini kita akan relatif terhindar dari tumpukan komplen end user. Jadi akan ada penghematan pada biaya after sales service dan service guarantee. Ini adalah esensi dari ungkapan quality is free. Yang artinya, makan di qua-li itu lebih baik sama si jupri…(teu nyambung pan). Oleh karena itu, dalam pendekatan ini, supplier tidak ditekan, namun diajak bicara, ngobrol serius dalam rangka membangun value produk di depan end user. Obrolan akan semakin efektif kalau ada keterbukaan antar kedua belah pihak.

 

Jadi kalau bisnis mau langgeng, maka tidak ada lagi tekan-menekan terhadap supplier untuk mendapatkan harga termurah. Apalagi kalau meniru anggota DPR minta komisi 8% ini. Orang ga kerja apa-apa ko minta komisi. Jangan deh, selain malu dikejar-kejar KPK, ruginya akan diperoleh di dunia dan di akherat. Hidup itu yang wajar-wajar saja lah, jangan main tekan, lebih baik hidup berdampingan dengan harmonis. In Harmonia Progressio, Maenin Harmonika Neng Nia, sambil Naek Motor Mio. Hidup Persib…Joy! Teu Nyambung deui Wae…….Lieur!

6 Responses to “Bisakah Perusahaan Menekan Supplier? (by Yudi Pram)”

  1. dheno said

    Wakakaka…Bosnya masih kecil yaa :p …gaya uy

  2. yudipram said

    ya itu si bungsu

  3. Nia Puspita said

    He he Fathan kok udah gede lagi…

  4. Kll di foto, tampang Fathan ko ga jutek yaw… foto Mas Ezra nya mana? Btw, Ade lg foto dimana tuh?

  5. Boerick-Biztel 5 said

    Asyikk….asyikkk…seneng baca tema ini, (soalnya lg nyari point of view or comment about supplier)…Meski baru coba blajar soal supplier 2 minggu ini…(yang ternyata menarik jg)
    Hmmm…Pak Yudi kayaknya aku setuju tuh kalo kita pake 2 pendekatan:Buy for Less dan Sell better….tergantung output yang kita mau aja…

    Trus pak, dari 3 pendekatan yang bapak tulis, bisa ga qt bikin penelitian tentang ‘managing risk of supplier’ (Aku baru baca buku “Supplier Profit Focus”… he he he ceritanya aq mau jadi orang yang SoToy neh…he he he….)

    Tambahin lagi dongsk pak artikel tentang suppliernya…

  6. nurul said

    hahaha..sumpah lucu banget kata2nya..mpe ketawa ga berhenti2..aduh pusing ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: