Yudipram Knowledge Brokering Forum

observe, think, feel, & speak up !!!

Booming Seluler & Kesejahteraan Masyarakat (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on July 26, 2008

malam saya bertemu kawan saya semasa kuliah dulu, Bang Jilal Mardhani. Pada akhir pertemuan kami sempat membicarakan perkembangan Industri Jasa Telepon Seluler di Indonesia ini . Menurut Asosiasi Telepon Seluler Indonesia, jumlah pelanggan telepon seluler (ponsel) di Indonesia telah menembus angka lebih dari 100juta pelanggan. Jadi penetrasinya terhadap jumlah penduduk nasional sudah lebih dari 40%.  Pesta pora kalangan pebisnis seluler dan yang terkait, memang sedang berlangsung meriah. Dari anak SD sampai dengan Kakek-Nenek sekarang sudah pegang ponsel. Produsen dan penjual handset, Operator, dealer dan distributor kartu seluler, dan pembuat content pada saat ini, sedang memanen hasil yang berlimpah. Selain itu, dengan komposisi lebih dari 90 % pelanggan ponsel  adalah pelanggan pra bayar, maka bisnis jasa seluler merupakan bisnis yang sangat likuid. Duit (pendapatan) sudah diterima di depan, meskipun jasa ponsel belum dipakai pelanggan. Gurih sekali memang! Makanya Syech Qatar pun tergiur oleh profil sintal Indosat

Pada saat ini rata-rata, ada sekitar lebih dari Rp 6trilyun uang pelanggan ponsel pra bayar yang disetor ke saku para operator setiap bulannya. Dari 6trilyun tersebut, 70% nya adalah berasal dari penjualan voucher denominasi Rp. 10-20rb an yang umurnya cuma sekitar semingguan dan dikonsumsi oleh kelompok masyarakat marginal. Artinya apa? Kalau ponsel itu ingin hidup terus, maka pelanggan ponsel minimal harus mengeluarkan uang Rp. 40rb perbulan. Kalau dalam satu rumah tangga sekurang-kurangnya ada 2 ponsel (untuk ayah dan ibu, padahal mungkin satu keluarga yang punya lebih dari 4 ponsel karena ditambah dengan 2 anak), maka pengeluaran rumah tangga untuk ponsel sekurang-kurangnya adalah Rp. 80rb per bulan, bahkan bisa lebih. Ini biasanya melebihi konsumsi listrik, air bersih, dan BBM untuk speda motor mereka.  

Sekarang coba bandingkan dengan harga beras. Jika satu keluarga mengkonsumsi 1 kg beras perhari, dan harga beras Rp. 6000 per kg, maka pengeluaran setiap keluarga untuk makanan pokok adalah Rp. 180rb per bulan. Jadi kalau dihitung-hitung, rata-rata pengeluaran keluarga marginal di Indonesia untuk konsumsi ponsel adalah hampir setengah atau 50 % dari anggaran makanan pokok. Maksud kami, yang harus dikritisi dan dipertanyakan adalah apakah pengeluaran ponsel ini cukup bernilai dan bermanfaat bagi masyarakat marginal Indonesia yang UMRnya Cuma Rp 900rb per bulan itu? Apakah sudah waktunya dan cocok prioritasnya membelanjakan uang untuk jasa ponsel sebesar itu? Sementara kondisi pendidikan dan kesehatannya masih sangat minim! Promosi para operator yang memberikan penurunan harga disertai gratis ini dan gratis itu, jangan sampai menjadi kontra produktif bagi peningkatan taraf hidup orang Indonesia. Masyarakat kita kan masih sering tidak mampu menentukan prioritas konsumsi.

Wajarnya harus ada pencegahan, jangan sampai pengeluaran konsumsi masyarakat untuk ponsel ini menjadi sama mubazirnya dengan pengeluaran untuk rokok. Sebagai contoh, di Bandung ada sopir angkot dengan pendapatan Rp 50rb perhari, tapi secara regular membelanjakannya untuk 3 bungkus rokok per hari dengan nilai sekitar Rp 18 rb. Ini kan merupakan kekonyolan dalam menentukan prioritas belanja. Uang Rp 18 rb x 30 hari (sekitar Rp 540 rb) seharusnya bisa digunakan untuk membeli susu dan menyekolahkan anaknya disekolah yang berkualitas, bukan dibakar via rokok.  Pola belanja yang aneh….

 

Jadi maksudnya, dengan jumlah pelanggan yang sudah massal ini, maka masyarakat secara umum harus bertindak lebih kritis. Harus mampu menilai secara cermat manfaat dan keuntungan ponsel ini secara lebih menyeluruh. Harus ada kajian yang mengevaluasi, apakah setelah satu keluarga menggunakan ponsel itu, ada dampak positifnya. Dengan berlangganan ponsel, apakah pendapatan keluarga itu menjadi lebih meningkat karena peluang bisnis semakin terkuak? Apakah ada peningkatan akses kepada informasi/pengetahuan sehingga semua anggota keluaga menjadi semakin pintar? Apakah ada peningkatan hubungan sosial yang semakin meningkatkan kekeluargaan dan menurunkan stress? Apakah ada manfaat-manfaat lainnya yang meningkatkan kualitas perekonomian, kualitas kehidupan social, kualitas budaya dan nilai-nilai masyarakat. Jika keberadaan ponsel dalam satu keluarga itu tidak punya dampak yang signifikan terhadap kesejateraan keluarga tersebut, maka seharusnya segera dilakukan kontrol.  Upaya penyebaran virus penggunaan ponsel dan kampanye adiksi ponsel oleh para operator harus segera diluruskan oleh pemerintah, BRTI, dan masyarakat itu sendiri, agar tidak kontra produktif.

Bayangkan saja, saat ini, anak-anak SD, SMP, SMA di kota-kota besar rata-rata membelanjakan uang jajannya untuk membeli voucher denomimasi Rp 10-20 rb perminggu. Dan usagenya cenderung meningkat terus, SMS dan Yahoo Messanger berhasil membuat mereka kecanduan, selain itu, industri content yang tidak bermutupun  (ring back tone, kuis, ramalan, berita artis) turut andil dan berhasil menyedot pulsa mereka untuk dihabiskan dalam hitungan hari saja. Bisa jadi ini merupakan sumber inefisiensi dalam perekonomian Indonesia secara keseluruhan (ini omongan ngawang-ngawang memang, tapi ga ada salahnya di highlight agar ada silang pendapat). Jadi saran saya, mari kita akhiri euphoria penggunaan ponsel, dan gunakan ponsel hanya untuk hal-hal yang produktif. Jangan hambur-hamburkan uang anda untuk membeli pulsa yang tidak memberikan return yang positif.   (Mau protes? Silahkan……………..)

3 Responses to “Booming Seluler & Kesejahteraan Masyarakat (by Yudi Pram)”

  1. Quote:
    Gurih sekali memang! Makanya Syech Qatar pun tergiur oleh profil sintal Indosat..

    Personifikasi yang kewren (Indosat nampak seperti Dewi Sinta yang sintal hahaha).
    Klo YM justru lebih murah dari SMS selama ga pke layanan yg mesti register ketik C spasi D (Cpe Dweehhh)
    Tapi emang iya seh pa, artikel ini bisa jadi kontemplasi supaya qta ga melakukan sesuatu yg lebih banyak mudharat nya (apa seeehhh???)
    Rock oN, pa yP

  2. Krysnowide said

    Saya setuju dengan pendapat Bapak, bahwa harus ada proses screening dan pengawasan yang tepat terhadap dampak socio cultural dari penggunaan HP & contentnya (semoga berlaku juga untuk tayangan televisi) terhadap masyarakat luas terutama segment menengah kebawah.
    Namun bagi saya dan segment market yang sifat psikologisnya seperti saya (bekerja di kota lain, dan rindu untuk berkomunikasi dengan keluarga dirumah), value yang saya dapatkan dari pengeluaran saya untuk pulsa bicara/ pulsa content:YM lebih dari harga pulsa itu sendiri pak.

  3. kaya kenal grafiknya….

    hmmmm…..???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: