Yudipram Knowledge Brokering Forum

observe, think, feel, & speak up !!!

Strategy during Infant Period: Survive or Die (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on July 31, 2008

Mengapa banyak bisnis baru yang gagal, namun ada juga yang berhasil? Ini adalah satu bukti bahwa setiap keputusan yang anda buat, akan memiliki kadar ketidakpastian dalam hasil. Jangan mudah percaya kalau ada orang yang menjanjikan keuntungan pasti dari satu bisnis. Misalnya, kalau ada yang menjamin bahwa untung dari bisnisnya 3% perbulan, Jangan dipercaya! Pasti wadul (big mouth lah) dan bermaksud memperdaya si investor atau yang punya uang (saya heran, kasus ini banyak terjadi, tetapi slalu saja ada yang menjadi korban, ini ciri-ciri bahwa orang kita memang pemalas). Dalam bisnis, slalu saja ada faktor-faktor yang diluar kendali yang akan mempengaruhi hasil. Tapi memang, tidak berarti kita harus kehilangan optimisme dalam menanganinya. Justru hal ini harus memacu kita, untuk dapat mengantisipasinya dengan strategi yang tepat. Yang diperlukan adalah kemampuan mengkalkulasi dan menghindari kerugian. Jadi apa yang harus dilakukan jika sudah memutuskan mendirikan atau membuka bisnis baru, dan tidak gagal? Dari pengalaman saya, salah satu penentunya adalah sejauh mana si pendiri bisnis berhasil menyiapkan strategi yang tepat dalam 3-6 bulan pertama sejak  bisnis itu diluncurkan! Dan berhasil melaksanakan strateginya dengan baik.

Membidani kelahiran suatu bisnis memang layaknya mengurus bayi merah yang baru bisa berteriak menangis, tanpa daya apa-apa untuk dapat mempertahankan hidupnya. Perkembangan kehidupan bisnis baru, benar-banar akan tergantung pada kemampuan si pendiri untuk melakukan nurturing pada 3-6 bulan pertama. Nurturing adalah kegiatan membuat proses bisnis berjalan normal sehingga diperoleh sejumlah pelanggan yang cukup pada setiap harinya agar menjadi sumber energi untuk kelangsungan operasi bisnis. Keberadaan pelanggan ini penting, selain untuk menjaga cashflow perusahaan, juga diperlukan untuk memotivasi karyawan kita agar tetap semangat dalam bekerja. Dan membuang jauh2 pesimisme semua anggota organisasi dalam menyongsong masa depan bisnis mereka. Kalau 3-6 bulan pertama ASI nya ga cocok, wah bakalan tuh bisnis kurus terus, dan almarhum di tahun pertama. Dalam 3-6 bulan pertama, si pengelola bisnis tidak cukup hanya menguasi teori dan pengetahuan mengurus bayi. Tapi lebih dari itu, harus mampu mengerjakan dengan baik hal-hal yang diteorikan itu. Point saya disini adalah, bahwa dalam urusan membesarkan bayi, tidak diperlukan pengetahuan yang tinggi sekaliber dokter anak, bidan senior, atau suster ahli (jangan suster ngesot!). Namun yang diperlukan adalah ketelatenan dari seorang ibu yang mampu mengawasi si bayi secara full 24 jam, sambil sesekali berkonsulansi ke si dokter, bidan, atau suster tadi. Demikian juga dalam mengurus bisnis baru, anda tidak perlu Professor, PhD, atau Analis bisnis senior. Yang diperlukan adalah manajer yang fulltime, yang bangun, bekerja, tidur, dan mimpi dengan bisnis barunya tersebut, dan tentu saja sesekali nanya pada orang yang ahli, untuk menanyakan apakah cara kerja dia sudah baik atau belum?

Dari pengalaman sendiri, dan pengamatan terhadap teman-teman saya yang rajin menggarap usaha baru, menurut hemat saya, ada 7 (tujuh) langkah penting yang harus menjadi perhatian pendiri bisnis baru. Ketujuh hal ini akan menjadi penentu, apakah bisnisnya dapat survive di perioda infant, khususnya periode post natal 3-6 bulan pertama atau tidak? Saya pilih angka tujuh, agar kelihatan keramat, seolah-olah seperti wangsit yang diperoleh dari pertapaan di tujuh gua, selama tujuh bulan. Ketujuh langkah tersebut, antara lain:

1.         Building Awareness. Bikin sebanyak mungkin orang-orang disekitar coverage pasar bisnis kita, mengetahui keberadaan bisnis kita. Lanjutkan upaya memperkenalkan keberadaan bisnis kita ini ke segmen pasar sasaran yang dituju (target market). Gunakan media komunikasi yang efektif menjangkau mereka dan bersifat agresif. Upayakan yang murah meriah dulu, seperti flyer door to door, spanduk, sms, imel, kupon diskon. Kalau punya uang yang cukup, bisa juga menggunakan iklan di Koran, Radio, dan TV. Jangan mengandalkan media yang pasif, misalnya web di internet.

 

2.         Setting Up Appropriate Outlet. Pilih lokasi yang mudah diakses dan memiliki fasilitas yang memadai. Pertimbangkan keberadaan differentiated element (misalnya elemen eksterior bangunan yang unik, seperti warna cat, bentuk bangunan, atau lansekap nya) di outlet kita, agar mudah dikenali oleh calon pelanggan dan pelanggan. Tapi tidak perlu sampe nanggap doger monyet, wayang golek, atau kuda lumping di halaman outlet anda! Alasannya: yang pertama geus teu usum. Yang kedua, naha ari maneh? Aya-aya wae atuh! Membuka bisnis baru tidak sama dengan pesta khitanan dan kawinan di kampung.

 

3.         Launching (technical test, soft launching, grand launching). Ini bagian yang tidak terpisahkan dari membangun awareness. Tapi pekerjaannya lebih repot, dan perlu lebih serius (serius sinatria dan donna agnesia). Siapkan scenario dan rencana launching yang matang. Buat jadwalnya yang tepat, siapkan pedoman penilaian dan evaluasi terhadap konsep dan operasional bisnis yang sedang dijalankan. Lakukan upaya perbaikan dan penyempurnaan setiap minggu. Jangan biarkan kesalahan terakumulasi sehingga effort untuk menanganinya terlalu besar. Gunakan soft launching untuk melakukan dua hal: (i) melatih karyawan dan; (ii) mengedukasi pelanggan.

 

4.         Time of Operation (Daily). Tentukan jam operasi yang dapat menangkap spill over atau limpahan dari pelanggan pesaing. Misalnya outlet anda mulai buka lebih awal dan tutup lebih lambat dibandingkan dengan jam operasinya pesaing. (tapi hati-hati, sekarang banyak rampok! Coba koordinasi dulu sama preman setempat dan polsek setempat). Memang jadi ada ongkos japrem, tapi kalu ketutup sama revenue dari pelanggan, kan gapapa. Kalau perlu kita harus buka pada saat orang lain sedang libur. Ini perlu dilakukan agar peluang untuk bertemu calon pelanggan lebih besar, mengingat pada saat pesaing masih buka, maka outlet bisnis baru relatif tidak menjadi pilihan pelanggan.

 

5.         Memorable first impression. Upayakan untuk meninggalkan kesan pertama yang baik di benak pelanggan-pelanggan baru anda. Setidaknya ada beberapa hal yang dapat meciptakan kesan baik di benak konsumen, yaitu: (i) New Concept of Business (tawarkan hal-hal yang baru, misalnya prosesnya berbeda); (ii) Good  People (pekerjakan pegawai yang ramah, sopan, dan good looking; sesekali disuruh pake full make up biar lebih cantik, misalnya pada saat malem minggu atau peak hour);, (iii) Good or New Physical Evidence (jangan pakai barang dan alat yang sudah butut, misalnya barang2 warisan nenek loe yang seharusnya sudah masuk museum!); (iv) Quick Process (kerjakan pelayanan dengan cepat, hindari prinsip batak: “kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?” Jangan bekerja seperti calo gurem, pegawai negeri, atau birokrat! ); (v) Good Price (kasih harga yang pantas, jangan sekali-sekali naro harga kemahalan, pelanggan ga bakalan balik lagi tuh); (vi) Compliment & Bonus, Point Reward (kalau punya anggaranya dan punya nafas panjang).

 

6.         Zero defect strategy (kata orang banjaran mah, “jero depek strategi”,maklum lidahnya rada teuas, jiga sampeu). Hindari kesalahan dan kegagalan dalam memberikan produk dan pelayanan kepada pelangan. Sering-sering lah mengendalikan dan mengevalusi proses yang masih baru. Hindari juga kerja sama dengan supplier gurem yang dipertanyakan kredibilitasnya. (Saya sering tertipu disini! Karena kasian sama UKM, saya suka bekerja sama dengan pengusaha gurem, tapi komitmennya sering mengecewakan, maklum suka kepepet modal, tapi ga pernah mau terus terang. Jadi anda perlu lebih berhati-hati kalau bermitra dengan pengusaha gurem)

 

7.         Responsibility and seriousness effort to care and satisfy customer. Tunjukan upaya  serius yang sedang dan akan dilakukan perusahaan terhadap pelanggannya, misalnya dengan melakukan: Keeping promise (jangan bikin janji palsu), Easy to complaint (sediakan saluran komplen yang mudah) , Easy to contact (harus mudah dihubungi), More attention for frequent buyer (beri perhatian ke pelanggan yang balik lagi), Suggestion to optimize customer value, even though you have to  promote competitor products (kasih pelanggan solusi seoptimal mungkin, gapapa meskipun harus dibundling dengan produknya pesaing)

 

OK, semoga bisnis anda bisa tumbuh kuat dan menyerap pengangguran Indonesia, yang melimpah ruah.

4 Responses to “Strategy during Infant Period: Survive or Die (by Yudi Pram)”

  1. Lagi suka susu ya pa! Analoginya ke ASI seh…

    “Kalau 3-6 bulan pertama ASI nya ga cocok…”
    Wah ini kelirumologi hehe.. ASI ga ada yang ga cocok Pa, pasti selalu cocok! dan ASI itu bukan 3 – 6 bulan lamanya, ASI Eksklusif itu 9 bulan.
    Klo Susu Formula (SuFor) mungkin bangeudh bisa ga cocok, Heran malah ada banyak orang kasih susu kolostrum.. masa bayi manusya di kasih kolostrum sapi lah nanti bayi sapinya di kasih kolostrum syapa? mendingan bayi manusya dikasih kolostrum mamanya (naha ari maneh, aya-aya wae daek dibobodo ku tukang dagang hahaha…)
    :: Vote for Early Latch on and ASI ::
    (Lho ko malah kampanye hehehe maaph terlalu smangadh klo urusan susu seh)

    Point 2, 4 n 5 maw saya propose sama boss besar hahaha…
    Lucuw artikelnya n kewren (as always)
    Rock oN, pa yP!

  2. untuk poin yang nomer 1, memang web adalah media pasif, tapi jauh beda dengan blog yang merupakan media interaktif

    buat saya kerasa banget lho pak😉

    coba aja search republik kuliner di google, mayoritas nyantol di berbagai blog😀

  3. yudipram said

    ya bener gah, yang paling penting dalam marketing communication, sebenarnya cuma kecocokan antara media, target audiens, dan target market. kalau overlap antar ketiganya besar, biasanya efektivitas komunikasi juga cukup tinggi.

  4. hari said

    anne ngak sengaja browsing .. eh kesangkut nich blog..
    Muantep banget dah … bravo untuk sharing ilmunya ..
    BTW .. tambah lagi dong untuk yang marketingnya ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: