Yudipram Knowledge Brokering Forum

observe, think, feel, & speak up !!!

What to Do When Your Boss is a Jerk (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on August 13, 2008

Dalam organisasi yang menganut sistem otoriter, biasanya berlaku 2 aturan. Aturan pertama adalah Boss always right. Boss itu selalu benar: gagasan, pikiran, konsep, prilaku, dan keputusannya itu tidak boleh dibantah!  Aturan kedua adalah if the Boss wrong, reread rule # 1. Kalau boss salah, baca lagi aturan pertama. Hahahaha ini namanya dwi-tunggal. Aturan yang di loop alias closed system, muter-muter aja disitu kaya bianglala dunia fantasi. Ini model demokrasi terpimpin ala orde baru.  Jadi boss memang enak, selalu merasa di atas angin. Lawan siapa pun selalu dan pasti menang, meskipun tidak didukung oleh Viking-bobotoh yang kampungan itu (ke..ke..ke..eh naha jadi mengkol ka Persib). Selama itu bawahannya si boss, maka bukanlah wasit yang berkuasa, tapi si boss lah yang berkuasa, dan wasit akan dipersilahkan si boss untuk duduk di bangku cadangan.

Punya boss yang otoriter, sebenarnya tidak masalah, asal si boss memang orang cerdas dan sangat menguasai permasalahan organisasi. Kalau si boss orang pinter (maxudnya pinter beneran ya, soalnya yang dibilang orang pinter oleh tante saya, bukanlah habiebie atau Einstein, tapi malah dukun yang mengaku-ngaku bisa menerawang masa depan), maka kita sebagai bawahan, tinggal nunggu perintah dan mengerjakannya sebaik-baiknya. Ketika hasilnya muncul, biasanya kita puas, karena memang si boss telah memberikan direction yang tegas dalam mengatasi semua permasalahan organisasi. Yang bikin bête adalah kalau kita punya boss yang below average (ini penghalusan dari terminology bodo). Yang buat keputusan sering kontradiktif, kontra produktif, dan mengambil pilihan yang tidak logis atau tidak obyektif. Kita sudah cape-cape bikin kajian dan konsep yang oke, tapi alternative yang dipilih bukan yang first best choice atau minimal  yang second best lah, tapi malah yang fourth best atau bahkan yang fifth best alternatives. Kalau punya boss begini kan, kata si aming sih: capeee……deh!

Boss yang below average bukan fenomena yang aneh, apalagi di Indonesia. Mereka ada dimana-mana. Di negeri ini, sering kali orang berhasil menjadi pemimpin bukan berdasarkan kompetensi dan profesionalismenya. Namun banyak juga yang melalui jalur preman dan jalur pemaksaan, melalui kekuatan-kekuatan psikis dan material. Politik uang biasa di jalankan di negeri tercinta ini. Jadi jangan heran kalau tiba-tiba tukang copet bisa jadi pejabat publik berdasi dan disegani. Secara umum, ada beberapa kondisi yang memungkinkan hal ini terjadi:

1.    Sistem Talent Management di Organisasi tidak dipersiapkan dengan baik (Maxudnya disini bukan talenan buat alas motong pake pisau di dapur). Tapi tatacara pengelolaan bakat pegawai. Banyak organisasi/perusahaan yang belum mengimplementasikan dengan baik pengelolaan bakat-bakat positif (talent management) yang dimiliki oleh karyawannya. Hal ini tidak menjadi masalah ketika ukuran organisasi masih kecil. Jika karyawan masih sedikit, pemilik perusahaan atau pengendali organisasi dapat dengan mudah mengenali bakat-bakat karyawannya melalui interaksi dan komunikasi yang intens. Namun jika organisasi sudah membesar dan anda sebagai pemilik tidak punya kesempatan yang intens untuk berinteraksi dengan karyawan, maka mutlak diperlukan adanya talent management. Gunanya apa? Ya tadi, biar ga salah milih manajer yang akan menjadi boss. Kasian kan karyawan anda yang dilevel bawah, kalau boss nya o’on

 

2.    Ada Senioritas (First In First Out) dan Kita Terlambat Datang. Orang o’on bisa jadi boss, karena dia jadi senior, dan organisasi mempertimbangkan umur yang tua untuk menjadi boss. Sebenarnya pengertian senior bisa ada dua: (i) tua dalam arti lahir kedunia lebih dulu; (ii) sudah kerja lebih lama di perusahaan itu. Kalau kita masuk sebagai pegawai baru dan masih muda ke jenis perusahaan yang seperti ini, ya sutralah trima saja nasib bahwa sewaktu-waktu anda akan dapet boss yang o’on. Tunggu tanggal mainnya saja giliran anda jadi boss.

 

3.    Perusahaan Keluarga (Family Business). Di perusahaan tipe ini ada posisi-posisi yang Untouchable oleh Karyawan Non Keluarga. Kalau anda bekerja di perusahaan keluarga dan anda bukan salah satu keluarga, maka siap-siaplah bahwa anda tidak akan pernah bisa masuk menjadi inner circle nya perusahaan. Kondisi ini sebenarnya tidak menjadi maslah kalau pengelolaan perusahaan dilakukan secara professional, artinya penempatan orang benar-benar disesuaikan denga kompetensinya. Yang repot adalah kalau para anggota keluarga ini ada yang tidak kompeten, namun secara hereditas memperoleh tahta untuk tampuk kekuasaan. Jadi siap-siap sajalah anda membatin (anggaran program diet ke klinik impression, bisa dihemat). Kecuali kalau anda berhasil mencari jalan dan menemukan loop hole ke inner circle, misalnya dengan menjadi menantu si keluarga pemilik perusahaan.

Lalu apa yang harus dilakukan kalau punya boss yang below average itu, ada 6 (enam) hal yang bisa anda lakukan:

1.    Stop expecting more than the boss can deliver, jangan berharap lebih dari boss anda, bagai punguk merindukan bulan (Tong nu lain-lain punguk!, kalau mw ke bulan harus pake Apollo 11, bukannya pake rindu).  Jika ada masalah dan pekerjaan sulit, maka lebih baik berinisiatif sendiri saja untuk mengatasinya, jangan menunggu disuruh.

 

2.    View the objectionable behavior as the boss’s problem, not yours. Jika boss membuat keputusan yang memalukan anda sebagai stafnya, anggap aja itu sebagai masalahnya si boss, bukan masalah anda. Tidak perlu mengurung seorang diri di kamar selama 7 hari 7 malam atau demo mogok makan karena boss bikin keputusan yang aneh. Ini tidak ada gunanya, buat apa menyiksa diri sendiri, jangan menciptkan neraka untuk diri sendiri. Cuek aja, jangan terlalu terbebani oleh prilaku dan keputusan si boss, selama gaji dan prestasi anda tetap diakui banyak orang, its ok! Berlian tetap berlian meskipun dia berada di kandang kebo yang ada di banjaran.

 

3.    Spend more time with subordinates and less time with your boss. Jangan buang waktu untuk diskusi dengan si boss, mengenai gagasan anda. Bisa-bisa anda seperti sedang diskusi dengan tembok, sebab dia ga ngerti, tapi biasanya ngotot bin keukeuh. Lebih baik anda menggalang kekuatan dengan bawahan, sehingga semua bawahan setuju. Lalu baru bilang sama boss, bahwa ide anda disetujui banyak orang, dan kalau si boss mau menyenangkan banyak orang, dia harus setuju juga. Intinya belajarlah jadi provokator.

 

4.    Confront your boss in private. Kalau anda tidak setuju dengan keputusan si boss, jangan mendebat dan melawan di depan forum. Itu beresiko akan mempermalukan beliau. Meskpun itu maen-maen, tetap dilarang! Misalnya, karena anda tidak setuju, terus anda morosotkeun sarungnya si boss di depan umum. Tidak boleh! Eta mah lain heureuy, tapi calutak! Lebih baik anda datang secara pribadi dan pilih bertemu 4 mata saja seperti si Tukul. Kalau si boss gila hormat, posisikan diri anda sebagai bawahan yang tidak mau bossnya dipermalukan. Kalau si boss nyantei, posisikan diri anda sebagai sahabat si boss yang ingin memberikan masukan saja, dan tidak akan memaksakan kehendak (dan juga bukan mau minta naik gaji).

 

5.    Keep your outside options open in case you choose to quit. Bina hubungan dengan pihak luar sebaik-baiknya. Bangun kredibilitas dan profesionalisme dengan luas. Pokoknya maxudnya gaul gitu looh…. untuk membangun jejaring (networking). Sehingga kalau anda keluar dari organisasi/ perusahaan ini, maka sudah ada pihak yang berlomba-lomba untuk menampung anda. Selain itu, networking yang luas, juga akan meningkatkan posisi tawar anda terhadap si boss.

 

6.    Be patient! Your good work may eventually get you promoted in the job now held by the boss. Tetap lah bekerja dengan baik, kalau prestasi anda baik, nasib baik akan segera membawa anda ke posisi yang saat ini ditempati si boss. Jalannya bisa 2 jalur: (i) jalur pertama, si boss sadar bahwa ada yang lebih baik dari dia, dan dia akhirnya memilih anda untuk menggantikan posisinya, jadi si boss berhati mulya seperti dermawan yang baik hati. (ii) jalur kedua, bisa saja ada orang lain yang lebih berkuasa dari si boss yang akhirnya memutuskan bahwa dia telah menemukan orang yang lebih baik dari si boss yaitu anda. Tapi jangan lakukan kudeta posisi ala ken arok, itu tidak professional dan tidak elegan.

Kalau ke-6 hal ini anda kerjakan secara konsisten, mudah-mudahan mempunyai boss yang below average tetap membuat anda memperoleh kepuasan kerja dan tentu saja kinerja individu yang baik juga.

3 Responses to “What to Do When Your Boss is a Jerk (by Yudi Pram)”

  1. arylangga said

    sangat jelas dan mendetail..bravo

  2. yudipram said

    ok, makasih boss…….

  3. DEDEN said

    wah gue banget neh….
    asli bete banget punya boss yg ngasih keputusan suka ga jelas dan ngambang, tetapi akibat keputusannya yg dibentak2 kita2….

    tadinya malam ini udah memutuskan untuk quit..eh baca artikel ini jadi semangat utk membuktikan bahwa diri gue adlh org yg tahan dibanting2….thanks…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: