Yudipram Knowledge Brokering Forum

observe, think, feel, & speak up !!!

Escape from The Crowd: From Market Based to Resource Based (By Yudi Pram)

Posted by yudipram on September 10, 2008

Apa yang harus anda lakukan jika perusahaan anda kalah bersaing, dan menjadi pecundang dalam perebutan pasar end user. Tapi anda ingin tetap eksis dalam industri, karena potensi profit di bisnis itu sangat sexy dan menggiurkan? Jawabannya adalah mundurlah dari arena pertempuran, dan jadilah anda supplier bagi para pesaing anda! Dari pada anda repot-repot buang energi untuk bersaing dengan pesaing anda yang sudah jelas-jelas lebih OK & lebih jago, mendingan anda back off dan mengambil posisi sebagai mitra dalam value delivery networknya pesaing. (kata Gus Dur sih, gitu aja ko repot!). Itu adalah langkah aman, untuk tetap menikmati gurihnya profit yang ada di industri.  Ketimbang tidak ikut menyantap sama sekali, mendingan berkolaburasi dengan pesaing untuk menikmati pesta pora industri. Dengan kata lain, kalau perusahaan anda ngga kompetitif di pasar retail, maka  mendingan  jadi wholeseller, atau pergilah ke sub industri yang ada di hulu. Ini adalah pilihan cerdas, agar anda dapat  mensupply ingredients yang akan diolah perusahaan yang akan melayani kepentingan end user.

Dalam kondisi sekarang, pilihan apakah anda akan berkompetisi atau berkolaburasi dengan para pesaing anda, merupakan pilihan yang sama-sama memiliki peluang dan tantangan besar. Hal ini dimungkinkan, karena saat ini sedang terjadi kecenderungan bagi-bagi tugas pada segmen bisnis yang paling cocok dengan kompetensinya. Banyak perusahaan yang unggul, sekarang hanya mau fokus pada kompetensi dimana mereka merupakan yang paling unggul. Artinya kesempatan untuk mendapatkan bagian rejeki bisnis, tetap terbuka lebar, asal anda mampu menempatkan diri pada posisi yang memang dibutuhkan dalam proses value creation perusahaan yang anda supply. Jadi misalnya: kalau anda produsen mie instant dan kalah bersaing, maka kalau ingin tetap kebagian rejeki dari pertumbuhan industri, pindahkan ke pabrik terigu. Kalau di bisnis pakaian jadi anda kalah, maka pindahlah ke pabrik tekstil. Kalau di bisnis ayam goreng anda kalah, maka pindahlah ke peternakan ayam. Kalau di bisnis content dan jasa telepon anda kalah, maka pindahlah ke jasa jaringan. Pindah ke hulu memang bukan hal yang mudah, karena industri hulu biasanya padat modal dan sangat memerlukan skala ekonomis sebagai salah satu sarat efisiensi operasinya. Jadi modal utama untuk bergeser ke hulu adalah, anda harus mampu memobilisasi resource yang besar, meskipun tidak perlu  memilikinya. Karena esensi dari industri hulu adalah resources based. Yang punya resource, atau mampu mengendalikan resource, maka dialay yang akan menang.

Dalam literatur strategic management, biasanya dikatakan, anda dapat memilih dua pendekatan atau orientasi dalam mengekspoitasi keuntungan dari bisnis anda:

a.       Pendekatan yang pertama adalah  menggunakan orientasi market based, dimana sangat mengandalkan pada pasar atau konsumen akhir (end user) untuk mengcreate value. Pasar end user memang menjanjikan margin yang besar, karena jika anda mampu mengcustomized pemenuhan kebutuhan pasar, maka pasar menjadi relatif tidak sensitif terhadap harga. Namun ingat, dalam menggarapnya diperlukan kreativitas yang tinggi.  Jika ingin unggul di pasar end user, anda harus mampu mengikuti dinamikanya. Kalau terlalu lamban bergerak atau arogan menjaga jarak, jangan harap bisa menang! Anda akan dilibas oleh anak kemaren sore, yang punya energi kreativitas luar biasa. 

b.      Pendekatan yang kedua adalah menggunakan orientasi resource based. Disini anda akan bertumpu pada kepemilikan atau kemampuan mengendalikan sumber daya produksi (misalnya: capital, mesin, dan kompetensi) yang menjadi sumber untuk mempertahankan eksistensi di industri. Karena sifatnya yang padat modal, high risk, dan high return, maka biasanya perusahaan yang mampu masuk ke sektor hulu dan resource based, akan berjumlah relatif terbatas, sehingga hanya mampu dijangkau oleh kalangan binis tertentu. Oleh karena itu, dengan kondisi seperti ini, maka daya tarik industrinya cukup besar.

Jadi untuk escape from The Crowd, anda  dapat bergeser dari Market Based  ke Resource Based

Pada saat ini, gambaran di atas, setidaknya sedang terjadi di industri telekomunikasi nasional. PT.Telkom sebagai incumbent, tampak kewalahan untuk bisa memahami dinamika dan manuver operator lain yang bergerak scatter. Karena lahir dalam dari rahim pemerintah yang penuh birokrasi, serta dibesarkan dalam lingkungan monopoli, perusahaan ini nampaknya, tidak mulus mentransformasi  pengelolaan dan budaya organisasinya menuju karakter perusahaan-perusahaan unggul (lack of sense of crisis masih sangat kental mewarnai budaya organisasinya). Ketika para operator baru, berpacu untuk meningkatkan agilitynya, PT.Telkom ini  malah gagal mengikuti trend yang ada di industrinya. Kecepatan pengambilan keputusan bisnis di PT.Telkom relatif lebih lambat, dibandingkan dengan kompetitornya (hasil survey tidak resmi tahun 2008).

Secara riil raksasa telekomunikasi di Indonesia sekarang adalah Telkomsel dengan pelanggan sekitar 60 juta nomer, diikuti oleh Indosat  (1/2nyaTelkomsel )  dan Excelcom (2/3nya Indosat).  Di luar itu, ada operator lainnya yang siap menyodok: Bakrie, 3 , dan Axis, yang secara konsisten terus berupaya menggerogoti market yang ada. Ini menjustifikasi bahwa resource yang terbatas bukan halangan untuk maju kedepan. Kecerdasan jajaran pimpinan dan keahlian berstrategi, lebih banyak menjadi faktor penentu, apakah mampu membawa perusahaan ke posisi unggul di pasar atau tidak. PT.Telkom sebagai incumbent, pada saat ini sudah tidak dominan lagi di pasar end user. Oleh karena itu, agar tidak semakin tersingkir, nampaknya pilihan bergeser ke hulu dan memasuki pasar wholesale di jasa jaringan merupakan katup penyelamat (safety valve) yang diharapkan dapat mempertahankan eksistensi perusahaan ini dalam dinamika industri telekomunikasi nasional.

Jadi kalau andapun mengalami hal yang sama dengan PT. Telkom, anda tidak perlu ngotot di pasar end user. Lebih baik geser ke pasar wholesale atau industri hulu. Kecuali kalau anda punya SDM unggul dan sistem yang lebih baik dari perusahaan kompetitor, anda baru boleh bertarung sampai titik darah penghabisan di pasar end user. Gimana, siap?

3 Responses to “Escape from The Crowd: From Market Based to Resource Based (By Yudi Pram)”

  1. Quote “… untuk tetap menikmati gurihnya profit yang ada di industri. Ketimbang tidak ikut menyantap sama sekali…”. Slurrph ah jadi laper neh..

    Iya Pa yP benul, Ini sudah dilakukan oleh Siemens yang berkolaborasi dengan Nokia jadilah Nokia Siemens Network, escape from the crowd. Perusahaan tempat saya kerja sih uda ada bisnis unit yg mengimplementasikan itu. Btw, escape itu sama dengan RunAwaY ga seh? hihihi

    Share di FaceBook, pa?
    RocK oN, pa yP!

  2. Aestikani said

    Kalau tdk salah Telkom sebentar lagi akan memasuki New Wave business yang dalam program korporatnya disebut ‘InSync’, dimana nanti telepon rumah bisa digunakan untuk multi-akses (Next Gen Network). Kira2 bagaimana prospek nya ya Pak…? Dari segi masa depan industri Telco bisakah jadi alat perang Telkom yang handal..?

    Diulas dong Pak..

  3. yudipram said

    mba aestikani,
    insync memang, akan jadi andalan telkom. tapi kendalanya pada consumer behavior yang belum tentu acceptable. meskipun benefit dari new wave cukup menggiurkan bagi pelanggan, tapi akan menghadapi obstacle pada kebiasaan2 yang sudah ada. jadi perlu sosialisasi dan edukasi yang intensif, selain tentu saja harga-harga layanan new wave yang harus terjangkau. kalau waktu saya longgar, nanti saya bahas masalah ini. thx anyway

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: