Yudipram Knowledge Brokering Forum

observe, think, feel, & speak up !!!

Menyalahkan Faktor Eksternal yang Uncontrolled (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on November 2, 2008

Ada yang perlu didiskusikan sehubungan beberapa publikasi media massa terhadap kinerja keuangan PT.Telkom, tbk pada tahun 2008 ini. Pada beberapa pemberitaan selama 3 bulan terakhir terhadap perusahaan tersebut, dikemukakan bahwa baik laba PT.Telkom, maupun PT.Telkomsel (sebagai anak perusahaannya) mengalami penurunan (manurung….bah!). Keadaan ini tentunya tidak sesuai dengan target perusahaan, lebih tepatnya tidak sesuai dengan anamat RUPS. Meskipun pendapatan triwulan III yang Rp.44,6 T naik sekitar 2.18% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, namun labanya turun sebesar 9.16% (PR,1-11-08).  Sebenarnya, ini merupakan fenomena normal, bukankah segala sesuatu itu ada siklusnya? Tapi, yang menarik adalah komentar para petinggi di kedua perusahaan tersebut yang terkesan menyalahkan kondisi eksternal perusahaan, dimana industri telekomunikasi nasional sedang dilanda perang tariff. Menurut hemat saya, ini agak janggal! Bukankah strategi perusahaan pada dasarnya adalah menyesuaikan kondisi internal perusahaan dengan peta peluang dan ancaman yang ada di eksternal perusahaan?  Dalam kegiatan manajerial perusahaan, kita itu membuat formulasi strategi, bukan formulasi lingkungan bisnis. Jadi kalau tujuan dan target perusahaan tidak tercapai, yang harus disalahkan adalah strateginya bukan lingkungan bisnisnya. Mengapa demikian? Karena hanya strategi perusahaan yang bisa kita kendalikan, bukan lingkungan bisnisnya. Lingkungan bisnis itu berfluktuasi dinamis dan bergerak liar, kita tidak bisa memaksa lingkungan bisnis (eksternal)  berprilaku sesuai dengan kehendak kita. Ilustrasinya begini, kalau anda seorang Off Roader, maka anda harus secara seksama dan serius menyiapkan kondisi mobil yang prima, stamina dan keterampilan menyupir yang tinggi. Anda tidak bisa menyalahkan medan Off Road yang sulit, misalnya karena banyak pohon tumbang, dan atau banyak tebing longsor. Karena kalau anda mau Off Road, memang begitulah medannya! Sesulit apapun medannya, Off Roader harus fokus pada arah dan pengendalian mobil, tanpa menyalahkan medan. Kalau anda nggak mau susah,  ya… jangan Off Road, tidur aja di rumah, nongkrong di Café atau jalan2 di mal. Jadi, kalau anda eksekutif perusahaan, sebenarnya anda adalah Off Roader, anda sedang bertualang di medan yang hampir sepenuhnya tidak anda kenal. Pedal kopling, gas, rem, permainan persnailing, dan gerakan stir harus anda mainkan sedemikian rupa agar mobil anda tidak terpelanting dan jungkir balik! Nah….loh…

Kenapa tidak boleh menyalahkan faktor eksternal? Kalau anda rajin membaca (tapi tentunya bukan komik naruto atau dora emon), maka berbagai referensi sudah memberikan signal dan warning, agar anda senantiasa harus menyesuaikan strategi anda dengan lingkungan eksternal anda. Teori ekonomi yang paling dasar (PIE semester 1) menyatakan bahwa jika suatu industri memiliki laba di atas normal (industri telekomunikasi memiliki gross margin sampai 60%), maka profit yang tinggi ini akan menjadi insentif bagi para pemain lain untuk masuk arena dan berebut menikmati kue keuntungan yang ‘mak nyuss’ itu. Kondisi ini pada akhirnya akan membawa semua perusahaan untuk rela menurunkan harganya, sekaligus merevisi tingkat keuntungannya ke tingkat yang lebih rendah. Pada gilirannya industri akan berada pada laba normal, karena kue yang besar sekarang dinikmati oleh lebih banyak pemain. Kalau tahu bahwa pola dan siklusnya akan seperti ini, dalam teori sebenarnya sudah dikatakan bahwa perusahaan harus melakukan efisiensi biaya agar masih memiliki profit yang cukup untuk membiayai inovasi dan pengembangan sehingga mampu mempertahankan eksistensinya di industri. Jika efisiensi dan inovasi tidak dilakukan maka habislah perusahaan itu, karena free  cash flow akan berkurang, dan anda tidak punya barang baru yang bisa dijual untuk menarik pelanggan. Jadi trend perang tariff itu seharusnya sudah bisa dibaca dan diantisipasi oleh para petinggi perusahaan telekomunikasi nasional. Selain dari teori, sebenarnya mereka juga bisa belajar dari industri perbankan dan penerbangan nasional yang sudah mengalami deregulasi dan liberalisasi duluan. Jadi sangatlah ceroboh jika fenomena perang tariff ini tidak diantisipasi dalam contingency plan mereka (bisa jadi ini karena paradigma monopoli yang masih meraksuki mereka). Sebenarnya dalam teori-teori industri life cycle atau product life cycle pun sudah dikatakan bahwa bisnis ini akan melalui 4 tahapan: introduksi, tumbuh, mature, dan decline. Strategi pada masing-masing tahap tentu saja berbeda (coba lihat lagi bukunya deh….). Tapi yang jelas pada tahap maturity itu, perusahaan dituntut untuk memperjuangkan efisiensi. Meskipun mengeksekusi efisiensi itu tidak mudah (maklum menyangkut perut banyak orang dengan berbagai kepentingan), tapi perusahaan harus punya program yang riil ke arah ini. Pressure ke arah pimpinan perusahaan memang tidak bisa dihindari, apalagi jika karyawan anda berjiwa preman, anarkis, cengeng, pendengki, dan egois. Berantem dengan serikat karyawan, mendapat ancaman dan keluhan dari pegawai tua-pemalas-tapi serakah&tak tahu diri, sampai dengan tekanan politik dari suprastruktur perusahaan akan dialami oleh pimpinan perusahaan. Disinilah diperlukan idealism, keberanian, dan sikap patriotik para petinggi perusahaan untuk tidak popular di kalangan liabilities employees, dalam rangka menegakan panji perusahaan dan eksistensinya di Industri.

Ngomong-ngomong soal ini (by the way, anyway, busway….) , menyalahkan lingkungan eksternal yang uncontrolled, nampaknya sudah menjadi trade mark orang-orang Indonesia pada umumnya. Akibat terbiasa dijajah, dan takut dihukum Kumpeni, orang Indonesia takut mengakui kesalahan. Ketimbang segera melakukan introspeksi dan evaluasi diri, orang Indonesia lebih suka menunjuk dulu pihak lain sebagai penyebab permasalahan yang menimpa dirinya. Ini tentunya merupakan sikap yang tidak kesatria dan tidak bertanggung jawab. Jadi kalau ada masalah, akan lebih terhormat dan elegant jika kita melihat dan memperbaiki terlebih dahulu kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita, tidak perlulah menyalahkan orang lain. Revolusi mental mungkin harus dilakukan agar, bangsa Indonesia tidak selamanya jadi bangsa kerdil…………..

 

2 Responses to “Menyalahkan Faktor Eksternal yang Uncontrolled (by Yudi Pram)”

  1. teguhhe said

    good analysis sir..;-0 bytheway,busway,subway….yobenway. minggu ini ada di kampus terus khan!? mau mbimbingan nih sir.tq (teguhhe@gmail.com)

  2. labqim said

    Pak Yudi, sy baru aktif di wp neh : labqim.wordpress.com
    Mampir ya Pak.

    Oh iya, skrg sy di IT Telkom,pak. Teaching di Teknik Industri🙂

    Warm regards,

    Muhammad Iqbal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: