Yudipram Knowledge Brokering Forum

observe, think, feel, & speak up !!!

Siapa Menabur Gersang Akan Menuai Banjir (by Yudi Pram)

Posted by yudipram on November 23, 2008

banjirBandung Selatan banjir lagi! “Itu sih biasa………” Ceuk Si Dodo bari cingogo jeung dahar comro. Memang dalam bulan November 2008 ini, wilayah Majalaya dan sekitarnya yang dilalui oleh aliran sungai Citarum, kerap kali disergap banjir. Ini bukan kejadian yang pertama kalinya, namun sudah berulang selama 20 tahun, dan makin lama kondisinya makin parah. Para industiawanpun berteriak, karena pabriknya tidak bisa dioperasikan. Namun yang lucu adalah komentar pejabat pemerintah daerah setempat, yang menyatakan bahwa penyebab banjir adalah lekukan sungai citarum yang berkelok-kelok (PR,21 November 2008). “Karena alur sungainya tidak lurus maka terjadilah banjir!” kata Si Pejabat. Ini jelas merupakan pendapat yang tidak professional, tendensius, dan hanya berorientasi pada upaya untuk meng-gol-kan proyek normalisasi sungai. Siapapun tahu, ada proyek ada uang, jadi ada sumber untuk mencari sesuap berlian bagi mereka. Suatu sikap pejabat yang sangat pragmatis, berpikiran jangka pendek (& jang ka imah), serta mementingkan solusi jangka pendek yang temporer.

Kalau anda pernah belajar ilmu geologi dasar (Dewi Persik juga pernah belajar, karena beliau sekarang mengembangkan Teknik Geol atau Goyang), semestinya paham, bahwa aliran sungai itu hampir tidak mungkin lurus seperti jalan tol atau saluran irigasi. Ingat sungai itu ciptaan Allah, bukan ciptaan Dinas PU. Pola aliran sungai itu, dibentuk secara evolutif oleh sifat air yang selalu mencari tempat yang rendah, dan kondisi bentang alam eksisting. Karena permukaan bumi bopeng-bopeng tidak mulus seperti kaki jenjang para gadis bond, maka otomatis saja pola aliran sungai itu akan berkelok-kelok. Yang jelas, tidak ada hubungannya antara banjir dengan pola aliran sungai yang berkelok-kelok. Penyebab banjir adalah karena volume air dari curah hujan, yang biasanya terserap oleh tanah, sekarang sebagian besar menjadi ‘run off water’ atau air yang mengalir dipermukaan tanah. Pertanyaannya sekarang “kok bisa volume run off water menjadi semakin besar (atau disebut juga banjir)?” Ini terjadi karena  air hujan yang jatuh ke tanah dengan kecepatan yang merupakan fungsi dari gravitasi, tidak sempat direm atau diperlambat kecepatannya oleh pepohonan yang tumbuh di atas tanah, karena pohonnya sudah tidak ada! Karena air hujan menghantam tanah dengan kecepatan tinggi maka tidak sempat terserap tanah dan langsung mengalir dipermukaan tanah menjadi ‘run off water’

Jadi banjir itu terjadi bukan karena sungainya, tapi karena pohon yang menjadi fasilitator atau moderator pertemuan antara curah air hujan dan tanah permukaan, telah dikebiri atau divasektomi dengan cara ditebang, tanpa dilakukan upaya menanam dan menumbuhkan kembali. Kalau tidak ada moderator, biasanya dua pihak yang bertemu sering kali menjadi berbenturan secara keras, serta menimbulkan eksternalitas yang merugikan lebih banyak pihak. Dari ilustrasi ini, sebetulnya solusi untuk menghindari banjir sangat simple. Kalau tidak mau banjir, kurangi run off water, perbanyak volume air yang bisa diserap tanah, dengan cara : (i) jangan biarkan tanah gersang, tanam dengan pohon yang berdaun rindang; (ii) bangun sumur-sumur resapan untuk membantu air meresap ke dalam tanah; (iii) jangan tutupi permukaan tanah dengan aspal, beton, atap rumah, yang akan mengurangi luas daerah resapan; Jadi siapa yang menabur gersang maka mereka akan menuai banjir. Begitulah proses dan siklus sebab akibat alam mengajarkan kepada kita.

Yang perlu diingat oleh kita semua adalah, bahwa lingkungan hidup tempat kita tinggal ini ada daya dukungnya. Ibarat perahu, lingkungan hidup kita punya kapasitas maksimal dalam daya tampungnya. Kalau jumlah penumpang perahu melebihi kapasitasnya, maka perahu akan segera oleng dan tenggelam, serta menewaskan atau memusnahkan seluruh penumpangnya. Demikian juga dengan kota, propinsi, dan pulau,tempat kita tinggal ini. Jika jumlah penduduk tidak dapat dikendalikan, maka siap-siaplah untuk miskin dan musnah secara bersama-sama. Jumlah penduduk yang tidak terkendali dan melebihi daya dukung lingkungan akan menurunkan kualitas lingkungan hidup, dan pada akhirnya membuat sebut orang tidak bisa hidup. Untuk menyelamatkan lingkungan hidup dan makhlur hidupnya, maka perlu adanya perubahan paradigma dan prilaku kita semua, antara lain:

1.       Pandangan bahwa banyak anak, banyak rejeki, pada saat ini sangat menyesatkan. Pada saat suplai tenaga kerja terbatas pendangan ini benar, karena banyak anak berarti memiliki factor produksi yang banyak, sehingga suatu keluarga menjadi lebih produktif. Sekarang tidak lagi, banyak anak berarti membebani keluarga (karena penghasilan keluarga harus lebih besar), membebani lingkungan-tumbuhan-binatang (karena rebutan tempat hidup dengan manusia, akhirnya banyak tumbuhan&binatang yang punah), membebani masyarakat  & pemerintah (karena pajak yang dibayarkan oleh masyarakat harus dibagi sebagian pada warga Negara baru). Jadi, ledakan demografi akan membebani segenap manusia, tidak hanya keluarga saja (apalagi kalau anaknya jadi criminal!)

2.       Mungkin para ulama juga perlu lebih bijak menyikapi hidup. Jangan memberikan contoh punya banyak anak. Bukankah, tugas manusia itu harus menjadi khalifah di bumi, yang harus memelihara bumi dan dilarang merusaknya. Jadi keanekaragaman hayati yang diciptakan Allah harus dipelihara mati-matian. Kalau sampai ada mahluk Allah (binatang & tumbuhan) yang menjadi punah, bisa diartikan bahwa manusia sudah gagal menjadi khalifah di bumi. Jadi pengendalian jumlah penduduk perlu juga menjadi tema dakwah. Ingat Negara China itu mengalami peningkatan kemakmuran yang signifikan, karena berhasil mengendalikan jumlah penduduk dengan cara hanya mengijinkan satu keluarga memiliki satu anak saja.

3.       Fokus pada peningkatan kualitas individu sebaiknya menjadi orientasi utama dari pada ayah dan ibu. Daripada mengandalakan pada kuantitas yang sudah jelas-jelas akan menstimulasi adanya peningkatan beban pada kondisi internal keluarga dan eksternal masyarakat, pada saat ini sudah waktunya mengubah orientasi pada peningkatan kualitas individu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: