Yudipram Knowledge Brokering Forum

observe, think, feel, & speak up !!!

The Normal Sense of Fallacies (By Yudi Pram)

Posted by yudipram on October 3, 2011

Saya merasa jengkel ketika ada mahasiswa S2 yang sudah tua dan mengaku sibuk di kantornya memaksa saya untuk memberi kebijaksanaan atas ketidaklulusan beliau di mata kuliah saya. Meskipun dia tahu bahwa dia sudah melanggar aturan akademis mengenai kehadiran, namun secara implisit dia menunjukkan sikap bahwa aturan tersebut bisa ditawar dan saya diminta mengubah nilai saya untuk memuluskan keinginan mereka. Apalagi beliau yang merasa lebih tua, lebih kaya dan berkuasa di kantornya. Saya sengaja bersikukuh bahwa tidak ada perlakuan khusus untuk kasus ini dan beliau tetap harus ikut mengulang mata kuliah saya di angkatan berikutnya. Menurut hemat saya, pertama, hal-hal yang seperti inilah yang menjadi budaya sebagian besar bangsa Indonesia sehingga bangsa ini nasibnya selalu pas pasan, marginal, serta tidak punya harga diri yang tinggi dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia; Kedua, sebagai WNI yang terpelajar dan sudah senior harusnya beliau memberikan contoh yang baik, bukannya malah membangun preseden yang negatif.

Iya, penyakit sebagian besar bangsa ini adalah menganggap pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan itu adalah sesuatu yang normal jika dilakukan oleh banyak orang. Ini bahaya, apalagi kondisi demokrasi kita sedang kebablasan, jika semua orang setuju maka sesuatu yang salahpun jadi tidak bermasalah. Meskipun tindakan itu salah, namun jika dilakukan sekelompok, sekampung, senegara maka dianggap hal yang wajar. Inilah yang disebut dengan fenomena ‘normal sense of fallacies’, kesalahan adalah kejadian normal jadi jangan dipersoalkan lagi. Beberapa contoh ketidaknormalan yang pada saat ini diminta dianggap menjadi normal antara lain: (i) Kalau murid-murid mau lulus dan punya NEM bagus pada Ujian Negara (UN) maka boleh nyontek rame-rame. Murid yang tidak nyontek dan melaporkan kegiatan nyontek malah dimusuhi oleh semua orang dan diusir dari kampungnya. (ii) Kalau kita mau bikin Paspor, SIM, KTP, dan macem2 Ijin harus melalui calo yang akan memungut biaya berkali-kali lipat. Bisa lewat calo ber NIP BAKN atau calo swasta profesional. Kalau kita urus lewat jalur normal dijamin lama, menghabiskan waktu, dan menguras emosi, serta tidak ada pelayanan yang wajar pada jalur mormal. (iii) Kalau kita mau melamar kerja (ke lembaga dan perusahaan lokal yang dikelola secara kampungan) maka harus nitip dan punya saudara. Kalau tidak ada koneksi jangan harap akan lulus karena pegawai baru yang lulus adalah sanak saudara dari manajer SDM dan pimpinan lembaga/perusahaan tersebut. (iv) Kalau ditilang polisi atau satpol PP, tidak perlu sidang dan bayar denda sesuai dengan aturan yang berlaku, tapi cukup selipin aja uang salam tempel agar kasus anda berhenti disitu dan tidak diteruskan ke pengadilan. (v) Kalau korupsi berjamaah itu rasanya bukan korupsi, karena kalau nyolongnya banyakan terlihat tidak seperti nyolong dan tidak apa-apa. Jadi jangan heran kalau penjara dan rumah tahanan kejaksanaan penuh dengan anggota DPR/DPRD yang hobby menilap uang APBN/APBD. (vi) Kalau mamah ditagih sama debt collector kartu kredit, bilang aja mamah tidak ada dirumah ya nak… kata seus dulpi, ibu muda yang sudah mulai banyak utang karena gaya hidupnya. (vii) Dan lain lain kasus sejenis dan setype Mengapa normal sense of fallacies ini bisa mewabah di Indonesia? Jawabannya sederhana karena di Indonesia ini terlalu banyak contoh buruk yang gamblang bisa dilihat oleh siapapun. Dan celakanya yang memberikan contoh buruk itu adalah orang yang sudah tua, yang sudah kaya, dan yang sedang berkuasa. Keteladanan pada hal-hal yang negatif ini pada akhirnya menjadi virus akut yang menggerogoti integritas dari sebagian besar bangsa ini. Hal hal buruk ini mewabah diikuti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia dari semua strata sosial dan latar belakang pendidikan. Oleh karena itu, pekerjaan besar dari bangsa ini adalah mengubah paradigma yang kemudian harus berujung pada perubahan prilaku. Paradigm bahwa semua cara itu adalah halal, harus segera dirubah bahwa hanya sebagian cara saja, khususnya cara yang baik yang bisa dibilang halal. Cara-cara yang buruk dan tidak beradab harus dihapus dari memori dan tidak dilakukan lagi. Harus diingat pula bahwa cara yang haram itu dosa, dan dosa itu ada sangsinya di akherat kelak.

Jadi untuk memperbaiki harga diri bangsa kita harus dilakukan antara lain adalah: (i) Tidak mentoleransi pelanggaran sekecil apapun. Dalam jangka panjang pelanggaran kecil akan menjadi latihan yang efektif untuk melakukan pelanggaran yang lebih besar dan pada akhirnya menjadi pelanggar yang professional (ii) Berikan apresiasi yang tinggi pada anak-anak yang mempraktekan kejujuran dan ketaatan. Berikan pengertian, edukasi, dan sangsi pada anak-anak yang melanggar (iii) Mulai dari sekarang tidak lagi menggunakan jasa calo (ini memang berat, karena akan korban waktu dan perasaan) (iv) Konsisten terhadap aturan dan system. Kalau aturannya jelek perbaiki segara dengan menyanyakan kepada orang bijak yang berwawasan luas, jangan dijustifikasi oleh pendapat orang banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: